Selasa, 24 April 2012

FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA


Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menurut Sugono (2009:3) pada “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 antara lain: Kedudukan Bahasa Indoensia sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1). Lambang Kebanggaan Nasional 2). Lambang identitas nasional, 3). Alat Pemersatu Berbagai-bagai Masyarakat yang Berbeda-beda Latar Belakang Sosial Budaya dan Bahasanya, 4). Alat Perhubungan Antarbudaya Antardaerah.

  1. Lambang Kebanggaan Nasional,

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, yang menggambarkan ciri khas dan karakter bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlunya dibina rasa kebanggaan terhadap pemakaian bahasa Indonesia dan mempertahankan bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggan nasional.

  1. Lambang identitas nasional,

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia dapat dipahami karakter sifat dan menjadi ciri khas tersendiri bagi bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa Indonesia.

3. Alat Pemersatu Berbagai-bagai Masyarakat yang Berbeda-beda Latar Belakang Sosial Budaya dan Bahasanya,

Dengan fungsi yang ketiga memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Tidak adanya perbedaan atas berbedanya suku, budaya maupun adat istiadat. Dengan bermacam-macam bahasa daerah yang digunakan disetiap daerah tertentu setiap masyarakat akan tetap merasa satu karena adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

  1. Alat Perhubungan Antarbudaya Antardaerah.

Dengan fungsi keempat, bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa daerah yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Oleh karena itu peran bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung guna terjadinya interaksi antara satu daerah dengan daerah lain.

3. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi

Bahasa Indonesia memiliki peran dan fungsi dalam berkomunikasi antar satu daerah tertentu, namun kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara/. Bahasa resmi memiliki peran tersendiri. Hal ini berdasarkan Muslich (2007), dalam “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai: 1). bahasa resmi kenegaraan, 2). bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, 3). bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, 4). bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

(1) bahasa resmi kenegaraan,

Untuk hasil keputusan-keputusan, dokumen-dokumen, dan surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaganya dituliskan di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato atas nama pemerintah atau dalam rangka menuanaikan tugas pemerintahan diucapkan dan dituliskan dalam bahasa Indonesia

(2) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,

Sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.

(3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah,

Sebagai fungsinya di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

(4) bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek). Penggunaan bahasa Indonesia baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia.

Hal Ihwal Pengajaran Sastra


Pengajaran merupakan interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara pengajar dan siswa. Diantara keduanya terdapat hubungan atau komunikasi interaksi. Pengajaran merupakan suatu pola yang di dalamnya tersusun suatu prosedur yang direncanakan (Ampera, 2010:6). Selain itu, pada dasarnya sastra merupakan produk budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra memberikan wujud dan menggambarkan kehidupan dan realitas sosial yang ada di masyarakat.

Pengajaran sastra pada dasarnya memiliki peranan dalam peningkatan pemahaman siswa. Apabila karya-karya sastra tidak memiliki manfaat, dalam menafsirkan masalah-masalah dalam dunia nyata, maka karya sastra tidak akan bernilai bagi pembacanya. Pada dasarnya pengajaran sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastra menduduki tempat yang yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat maka pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat (Rahmanto, 1996:15). Melalui hal tersebut, sastra memberikan pengaruh terhadap pembacanya. Sastra membentuk pola pikiran dan respon pembaca terhadap apa yang dibacanya dengaan aktivitas kesehariaanya yang saling berkaitan.

Pengajaran bahasa dan sastra pada umumnya mengalami kendala dan hambatan. Khususnya pada pengajaran sastra yang terkadang dianggap kurang bermanfaat. Sikap yang kurang apresiatif muncul dari siswa dan guru, sehingga pengajaran sastra terabaikan. Kemendiknas (2011:59) menyatakan penyajian pengajaran sastra hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulm, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat dihati siswa. Pengajaran sastra diberbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Hakikat dari tujuan pengajaran sastra yaitu untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Pada pengajarannya pula sastra memiliki problematika yang mempengaruhi minat dan keinginan siswa untuk mengikuti pengajaran dengan baik.

  1. 2. Manfaat Pengajaran Sastra

Sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran, pandangan dan gagasan dari seseorang. Sastra diciptakan oleh pengarang berdasarkan pola pikir dan ide kreatif yang dibangun secara mandiri Pemikiran, gagasan dan pola pikir dari pengarang pada dasarnya bersumber dari keadaan-keadaan sekitar lingkup pengarang. Oleh karena itu, di dalam karya sastra terdapat tafsiran-tafsiran masalah dunia nyata. Sastra memiliki hubungan dalam kehidupan dunia nyata. Dengan demikian, pada dasarnya karya sastra memiliki peran dan kedudukan yang penting. Senada dengan hal itu, menurut Rahmanto (1996:16—25) manfaat pengajaran sastra dalam dunia pendidikan adalah sebagai berikut:

1) Membantu keterampilan berbahasa

Terdapat empat keterampilan berbahasa yaitu, membaca, menyimak, menulis dan berbicara. Pada proses pembelajaran tersebut, siswa dapat meningkatkan kemampuannya melalui kegitatan bersastra. Pengajaran sastra berperan meningkatkan keterampilan membaca siswa, misalnya saat siswa membaca puisi atau membaca prosa/cerita. Melatih keterampilan berbicara saat siswa ikut berperan dalam suatu drama. Selain itu, dapat melatih keterampilan menyimak saat guru membacakan suatu karya sastra, atau saat mendengarkan karya sastra melalui rekaman. Pengajaran sastra juga membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan menulis dengan menulis karya-karya sastra.

2) Meningkatkan pengetahuan budaya

Dalam sistem pendidikan seharusnya disertai usaha untuk menanamkan wawasan pemahaman budaya bagi peserta didiknya. Pemahaman budaya berperan untuk menumbuhkan rasa bangga, rasa percaya diri dan rasa ikut memiliki. Beberapa pengetahuan khusus mengenai budaya sendiri, pada dasarnya menjadi ciri khas. Hal ini membantu menggenalkan karakter dan identitas budaya yang ada. Pengajaran sastra jika dilaksanakan dengan bijaksana, dapat mengantar siswa berkenalan dengan budaya, karakter suatu hal tertentu.

3) Mengembangkan cipta dan rasa

Siswa merupakan individu yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Siswa pada dasarnya memiliki kecakapan dan siswa pula menunjukkan kekurangannya. Secara umum kita memandang siswa pada satu kesatuan yang kompleks, dengan memberikan perlakuaan yang sama. Namun, pada dasarnya siswa memiliki kecakapan dan kekurangan tersendiri. Oleh karena itu, siswa butuh diarahkan agar siswa menyadari potensinya. Dalam hal pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indera; bersifat penalaran; yang bersifat objektif; dan bersifat sosial; serta dapat ditambah lagi dengan sifat religius. Pengajaran sastra yang dilakukan secara benar akan dapat mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Secara rinci dijelaskan berdasarkan uraian sebagai berikut:

a)Indera

Pengajaran sastra dapat digunakan untuk memperluas pengungkapan apa yang diterima oleh panca indera seperti indera penglihatan, indera pendengaran, indera pengecapan dan indera peraba. Seorang pengarang pada dasarnya seorang yang memiliki berbudi halus, peka dan mampu menyampaikan apa yang mereka hayati kepada pembaca. Dengan mengikuti tafsiran serta makna-makna yang mereka ungkapkan siswa akan diantar untuk membedakan hal satu dengan hal lain.

b) Penalaran

Berpikir logis banyak ditentukan oleh hal-hal seperti ketepatan pengertian, ketetapan interprestasi kebahasaan, klasifikasi dan pengumpulan data, penentuan berbagai pilihan, serta formulasi rangkaian tindakan yang tepat. Pengajaran sastra jika diarahkan dengan tepat akan membantu siswa latihan memecahkan masalah-masalah berfikir logis semacam itu. Bahkan di samping sarat dengan kecakapan berpikir logis itu, pengajaran sastra juga meliputi kecakapan-kecakapan pilihan seperti dugaan, kebiasaan, tradisi, dorongan dan sebagainya. Tentu saja, siswa tidak bisa langsung diharapkan untuk melakukan hal tersebut. Namun, sejak awal para guru sastra hendaknya melatih siswa untuk memahami fakta-fakta, membedakan mana yang pasti dan mana yang dugaan, memberikan bukti tentang suatu pendapat, serta mengenal argumentasi yang tepat.

c)Perasaan

Kepekaan rasa dan emosi sering dikaitkan erat dengan pengajaran sastra, dan hal ini mungkin patut untuk dipertahankan. Pengertian perasaan ini memang agak kabur dan bahkan mereka yang yakin akan adanya perasaan itu tetap tidak selalu dapat mengerti dengan jelas apa maksudnya. Sehubungan dengan perasaan, sastra mungkin dapat menghadirkan problem atau situasi yang merangsang tanggapan perasaan atau tanggapan emonsional. Situasi dan problem itu diungkapkan oleh pengarang dengan cara-cara yang memungkinkan kita tergerak untuk menjelajahi dan mengembangkan perasaan kita sesuai dengan kodrat manusia.

d) Kesadaran Sosial

Sastra dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. Para pengarang modern telah banyak berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang tertindas, gagal, kalah, putus asa. Secara tidak langsung sastra memberikan kesadaran dengan membawa pesan untuk dipahami oleh pembacanya.

e)Religius

Banyak orang yang menyatakan dirinya sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk hal-hal yang berhubungan dengan rasa religius ini. Akan tetapi banyak pula yang beranggapan bahwa mereka hanya dapat memahami dan menjalani hidup sehari-hari dengan memdasarkan pemikiran dan tindakan merka pada sistem kepercayaan yang mereka yakini.

4) Menunjang pembentukan watak

Dalam nilai pengajaran sastra terdapat dua tuntutan yang dapat diungkapkan sehubungan dengan pembentukkan watak. Pertama, pengajaran sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Dibanding pelajaran-pelajaran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengenal rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti; kebahagian, kebebasan, kesetian, kebanggaan diri sampai kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian dan kematian. Seseorang yang mendalami sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal yang lebih bernilai dan tak bernilai. Selain itu, tuntunan yang kedua yaitu, dalam pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa yang antara lain meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian dan penciptaan. Sastra seperti yang kita ketahui, sanggup memuat berbagai medan pengalaman yang sangat luas.

Pengajaran sastra memiliki manfaat bagi siswa. Selain manfaat yang dikemukakan di atas sastra memiliki fungsi dalam pembentukan kepribadiaan. Bagaimana peran sastra pada karakter siswa dan penanaman nilai-nilai agama. Di dalam Kemendiknas (2011: 15—22) mengemukakan fungsi dalam membentuk kepribadian. Hal tersebut dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

a) Sastra Sebagai Pembentuk Karakter Anak

Sastra anak adalah citraan atau metafora kehidupan yang disampaikan kepada anak-anak yang melibatkan aspek emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, maupun pengalaman moral dan dieskspresikan dalam bentuk-bentuk kebahassaan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh anak-anak. Sastra dinilai dapat membentuk karakter denan efektif karena nilai-nilai dan moral yang terdapat dalam karya sastra tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui metafora-metafora sehingga menjadi menyenangkan dan tidak menggurui. Nilai-nilai yang terkandung dapat diresepsi oleh anak dan merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka.

b) Sastra Sebagai Strategi Penanaman Nilai-Nilai Agama

Seorang pengarang tidak dapat terlepas dari nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari ajaran agama yang tampak dalam kehidupan. Pandangan itu erat dengan proses penciptaan karya sastra, bahwa ia tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya. Sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Sastra yang bercorak pada nilai-nilai agama merupakan pengungkapan jiwa dan sarana untuk melakukan ibadah pada pencipta. Intinya. Karya sastra seharusnya memberikan hikmah. Hikmah karya sastra yang baik adalah bisa membuat orang membacanya tercerahkan. Hikmah itu dapat berupa nilai dan kearifan.

c) Sastra Sebagai Pembinaan dari Krisis Moral dan Krisis Keteladanan

Arah moderenisasi memberikan banyak perubahan bagi masyarakat. Perubahan yang justru mengarah pada krisis moral dan akhlak. Persoalan lainnya pula terletak pada krisis keteladanan. Krisis moral tersebut bisa diatasi dengan pembinaan watak. Dalam lingkup sekolah, misalnya, pembinaan watak diterapkan pada pengajaran sastra. Artinya pengajaran sastra berdimensi moral. Pengajaran sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun dan sebagainya banyak ditemukan di dalam karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel maupun drama. Bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, sehingga mampu mengatasi krisis moral dan karya sastra sebagai objek keteladanan yang baik.

  1. 3. Permasalahan Pengajaran Sastra Di Sekolah

Pengajaran sastra mencakup tiga genre, yaitu prosa, fiksi, puisi dan drama. Dalam pengaplikasiaanya dengan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai kegiatan aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Pada pengajaranya terdapat permasalahan yang menghambat proses pembelajaran. Berikut Kemendiknas (2011: 59—68) dikemukakan permasalahan dalam pengajaran sastra dan bagaimanakah seharusnya peran guru sastra untuk membina pengajaran sastra, yaitu sebagai berikut:

a) Problematika Pengajaran Sastra di Indonesia

Problematika pengajaran sastra di sekolah dikaitkan pada sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru dapat mengusahakan karya sastra yang dimuat di media massa dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio. Beberapa hal lain pula adanya anggapan gagalnya pengajaran sastra di sekolah lebih banyak terjadi akibat kesalahan guru di sekolah yang telah mengingkari hakikat yang melandasi lahirnya pengajaran sastra itu.

Sistem pendidikan di Indonesia acapkali memaksa sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru sebagai ujung tombak mengingkari hakikat pendidikan. Target perolehan nilai tertentu harus dicapai dengan standar penilaian ujian nasional, memicu pengingkaran tujuan pendidikan yang sebenarnya sehingga tidak urung memaksa guru bahasa menomorduakan sastra. Faktor rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMA memiliki pengaruh terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra yang kurang menjadi faktor lain, hal ini sangat tidak setara jika dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang dunia hiburan atau selebriti.

Permasalahan lain, kurikulum pendidikan yang saat ini digunakan tidak pernah memberikan ruang gerak pada pembelajaran sastra. Orientasi pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan masih melenceng jauh dari hakikat dan tujuan itu sendiri. Pada kenyataan guru pun masih dihadapkan dengan seperangkat silabus dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dipatenkan dan menghambat kreativitas guru dan dengan sendirinya pembelajaran sastra menjadi terpinggirkan.

b) Tugas dan Peran Guru pada Pengajaran Sastra

Tugas guru sastra tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif), tetapi juga keterampilan (aspek psikomotorik) dan menanamkan rasa cinta (aspek afektif), baik melalui baik kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Selama ini pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang dibatasi dinding kelas. Hasilnya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal, misalnya ketika siswa mendapat tugas menulis puisi berkenaan dengan alam. Namun guru bersangkutan tidak mengajak ke alam terbuka. Padahal pemanfaatan situasi menumbuhkembangkan daya imajinasi kreasi mereka dalam penciptaan puisi.

Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menciptkan srategi jitu. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dari segi isi (materi) maupun kemasannya. Dalam konteks pembelajaran sastra, tentu saja guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan jaman.

  1. 4. Materi Pengajaran Sastra

4.1.1 Memilih Bahan Pengajaran Sastra

Bahan pengajaran sastra sangat penting pada proses pembelajaran. Materi yang sesuai akan dapat membantu siswa lebih mudah utuk memahami karya sastra. Materi ajar yang rumit dan sulit akan membuat siswa merasa bosan untuk menikmati karya sastranya. Rahmanto (1996:27—33) mengemukakan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pengajaran sastra yaitu sebagai berikut:

a) Bahasa

Penguasaan suatu bahasa sebenarnya tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang Nampak jelas pada setiap individu. Sementara perkembangan karya sastra melewati tahap-tahap yang meliputi banyak aspe kebahasaan. Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang akan dibahas, tapi juga faktor lain seperti: cara penulisan yang dipakai si pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang.

b) Psikologi

Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap minta dan keenggaan anak didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologi ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan situasi atau pemecahan problem.

c) Latar belakang budaya

Biasanya siswa akan lebih mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka, terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan mereka atau yang memiliki kesamaan dengan mereka.Dengan demikian secara umum hendaknya guru sastra memilih bahan pengajaran dengan menggunakan prinsip yang mengutamakan karya-karya sastra yang latar ceritanya dikenal siswa. Karya-karya sastra dengan latar budaya sendiri yang dikenal siswa, akan membantu siswa untuk memahami budayanya sendiri.

  1. 5. Penerapan Pengajaran Sastra

5.1 Pengajaran Puisi

a) Hambatan Pengajaran Puisi

Dalam pengajaran puisi terdapat hambatan-hambatan yang mengganggu. Rahmanto (1996:44—45) mengemukakan hambatatan yang mengganggu bagaimana cara menikmati puisi yaitu; 1) Hambatan pertama adalah anggapan sementara orang yang berpendapat bahwa secara praktis puisi sudah tidak ada lagi gunanya. 2) pandangan yang disertai prasangka bahwa mempelajari puisi sering tersandung pada pengalaman pahit.

b) Teknik Pengajaran Puisi

Teknik pengajaran sangat beperan untuk mengatur proses pembelajaran. Teknik mampu mengarahkan agar proses pembelajaran sastra tepat dan dapat dipahami oleh siswa. Berdasarkan hal tersebut pula, Rahmanto (1996:48—53) mengemukakan teknik-teknik pengajaran puisi, yaitu sebagai berikut:

  1. Pelacakan pendahuluan, yaitu sebelum mengajar guru harus memahami tentang puisi yang akan disajikannya. Pemahaman ini penting untuk menemukan strategi yang tepat dan menentukan aspek-aspek yang membutuhkan perhatian khusus dari siswa.
  2. Penentuan sikap praktis, yaitu dalam mengajar sebaiknya puisi yang dibahas tidak terlalu panjang sehingga selesai pada setiap pertemuan. Selain itu ditentukan pula informasi apa yang seharusnya dapat diberikan untuk mempermudah siswa memahami puisi.
  3. Introduksi, banyak faktor yang mempengaruhi penyajian pengantar ini, termasuk situasi dan kondisi pada saat materi disajikan. Pengantar ini akan sangat tergantung pada individu guru, keadaan siswa dan karakteristik puisi yang diberikan.
  4. Penyajian, puisi merupakan bentuk sastra lisan. Dalam menyajikannya, pesan dan kesan yang dibawakan baru akan benar-benar menyentuh gerak hati seseorang apabila puisi itu dibacakan atau dikutip secara lisan. Puisi memiliki nilai-nilai iramatis dan dramatis yang sangat menentukan kualitasnya.
  5. Diskusi, dalam hal ini imajinasi guru sangat mempengaruhi masalah yang akan dibahas, baik mengenai kekhususan puisi dan tanggapan siswa dikelas.
  6. Pengukuhan, pada tahap ini terdapat langkah-langkah yaitu, pada dasarnya harus diusahakan siswa membacakan puisi secara lisan dan akan lebih baik lagi jika siswa mampu menulis puisi.

c) Penerapan Model Formeaning Response untuk Pengajaran Puisi

Model dan strategi pada dasarnya bertujuan untuk membantu proses pembelajaran agar berlangsung baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam hal ini diterapkan model formeaning response untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Menurut Nurhayati (2011) strategi formeaning response merupakan kombinasi dua srategi yakni strategi stilistik dan respon pembaca. Kata formeaning berasal dari kata form dan meaning yang mengacu pada strategi stilistik yakni startegi yang berpusat kepada bahasa yang terdapat dalam karya sastra/puisi. Kata response mengacu pada srategi respon pembaca mengasumsikan bahwa ketika siswa secara personal bergaul dengan karya sastra menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing.

Menurut Kelem dikutip Nurhayati (2011) terdapat delapan kegiatan pelaksanaan model formeaning response yaitu sebagai berikut: 1) kegiatan warm-up, yaitu kegiatan brainstorming dengan mengekspresikan opini siswa terhadap puisi yang akan dibaca. 2) kegiatan memfokuskan bentuk dan makna puisi yang berkaitan dengan unsur-unsur puisi. Kegiatan ini berupa latihan memberikan beberapa alternatif kata-kata yang sesuai atau tepat terhadap kata-kata yang “khas” dalam konteks keseluruhan puisi. 3) Kegiatan menyimak kata-kata yang dirumpangkan. Guru melisankan puisi yang telah dirumpangkan kata-kata tertentu. 4) Kegiatan mendaftar kata-kata kerja atau sambung dan objek-objek kongret dalam puisi. Siswa kemudian diminta untuk mengelompokkan kata-kata itu berdasarkan kategori kata. 5) Kegiatan berdiskusi, kelompok kecil (2 atau 3 orang). 6) Kegiatan mengambar, siswa membuat gambar tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. 7) Kegiatan role play. Siswa melakukan kegiatan bermain peran dengan berlaku seperti layaknya tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. 8) Kegiatan menulis surat. Kegiatan selanjutnya ialah kegiatan merespon puisi dengan cara mengirim surat kepada tokoh yang ada dalam puisi, memberi saran kepada tokoh, atau membuat catatan tentang tokoh.

5.2 Pengajaran Prosa Cerita

a) Prosa

Prosa merupakan karangan bebas yang diekspresikan pengarang. Prosa diciptakan berdasarkan ide dan imajinasi penulis. Menurut Supriyadi (2006:27) mengemukakan prosa adalah karangan sastra bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah hidup dan kehidupan dengan bahasa yang indah (estetik). Berdasarkan isi karangan, karya sastra dibedakan menjadi dua yaitu, karya sastra prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Sedangkan berdasarkan waktu, prosa dapat digolongkan dalam prosa lama, sebelum zaman Balai Pustaka dan prosa baru sesudah zaman Balai Pustaka. Selain itu, Supriyadi (2006:28) mengemukakan prosa fiksi berarti prosa yang isinya/ceritanya hasil rekaan atau khayalan pengarangnya. Prosa fiksi didefinisikan sebagai cerita sastra yang menggunakan bahasa yang estetis. Jenis prosa fiksi terdiri atas dongeng, hikayat, roman, novel, cergam dan cerpen.

Prosa non fiksi adalah karangan sastra yang isinya menceritakan hidup dan kehidupan tokoh-tokohnya secara mendatar. Jenis-jenis prosa non fiksi adalah biografi/otobiografi, sejarah/babat, esai, kritik, surat-surat, memoar (Supriyadi, 2006:41).

b) Novel dan Cerita Pendek

Dalam The American Collage Dictionarry dikutip Tarigan (2011:167) “bahwa novel adalah suatu prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan nyata yang representative dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau dan kusut”. Sedangkan, cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. (Ellery Sedwig dikutip Tarigan, 2011:179).

Novel dan cerita pendek memiliki perbedaan, menurut Tarigan (2011:173) perbedaan novel dan cerita pendek terlihat pada jumlah kata, jumlah halaman, serta jumlah waktu saat membacanya. Selain itu, cerita pendek menyajikan satu emosi saja, sedangkan novel lebih dari satu emosi. Cerita pendek pula menyajikan satu kesatuan efek sedangkan novel menyajikan lebih dari satu efek.

c) Unsur-unsur Novel

Novel memiliki unsur-unsur yang mempengaruhi pembentukkannya, menurut Rahmanto (1996:70—75) unsur-unsurnya yaitu:

  1. Latar, yaitu unsur dari prosa yang menyangkut tentang lingkungan, geografi, sosial, sejarah, dan bahkan lingkungan politik atau latar belakang tempat atau kisah berlangsung.
  2. Perwatakan merupakan daya tarik pembaca, melalui perwatakan terpancar imajianasi kreatif seorang pengarang. Unsur perwatakan ini terbagi atas dua makna, yaitu perwatakan sebagai dramatik persona yang menunjuk pada pribadi yang mengambil bagian di dalamnya. Kedua, menunjukkan kualitas khas perwatakan tersebut pada pribadi tertentu.
  3. Cerita, pada dasarnya unsur cerita sangat penting pada suatu novel. Unsur tentang ‘apa yang terjadi” dan “mengapa terjadi’ pada satu peristiwa sangat menarik perhatian. Cerita yang menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia baik konflik fisik maupun batin yang terjadi dalam suatu cerita.
  4. Teknik cerita, yaitu teknik yang digunakan pengarang untuk menceritakan. Misalnya cerita yang disajikan pengarang tentang orang pertama atau orang ketiga, dan cerita tentang tokoh yang disajikan pengarang lewat beberapa tokoh dalam novel secara bergantian.
  5. Bahasa, unsur-unsur kebahasaan dalam suatu novel merupakan sumber bahan yang cukup luas untuk dipelajari. Untuk mendeskripsikan dan membuat definisi di dalam novelnya, biasanya penulis menggunakan pola kebahasaan yang seragam dari awal sampai akhir.
  6. Tema merupakan kesimpulan dari fakta-fakta yang telah ada. Pada dasarnya puncak dalam mempelajari novel sebenarnya menemukan kesimpulan dari seluruh analisis fakta-fakta dalam cerita yang yang telah dicerna. Fakta-fakta yang ada dalam cerita berperan sebagai model-model universal yang dihadapi oleh manusia. Bahkan hasil analisis fakta-fakta cerita memberikan saran untuk memecahkan problem yang ada.

d) Teknik Sumbang Saran untuk Apreasiasi Prosa

  1. Prinsip Teknik Sumbang Saran

Teknik sumbang saran merupakan teknik pengajaran dalam sastra. Teknik pengajaran ini menurut Ampera (2010:68) adalah teknik yang dapat membantu pengajaran sastra. Teknik sumbang saran adalah teknik pengajaran sastra berbentuk permbincangan kreatif setiap individu dalam suatu kelompok untuk mendapatkan suatu rumusan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Teknik sumbang saran ini memberikan peluang kepada siswa untuk berpikir analitis dan kreatif. Setiap anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan ide atau gagasan secara kreatif. Setiap ide dan gagasan yang diungkapkan, kemudian didiskusikan, hingga diperoleh kesimpulan.

Dalam teknik sumbang saran, faktor yang harus menjadi pusat perhatian adalah gagasan, waktu, dan jumlah anggota kelompok. Kemudian banyaknya gagasan tergantung pada banyaknya anggota kelompok, hal ini pun akan berpengaruh pada pelaksanaan diskusi. Sebaiknya waktu dibatasi tidak terlalu lama, sekitar 30 sampai 40 menit. Setiap anggota diberi kebebasan untuk memberikan saran secara bergiliran.

  1. Teknik Sumbang Saran dalam Apreasiasi Prosa.

Sebelum pengajaran dimulai, pengajar sudah memilih karya sastra dalam bentuk prosa, misalnya cerita pendek untuk bahan apresiasi. Kemudian membagi siswa ke dalam beberapa kelompok serta menentukan ketua kelompok. Sebelum kegiatan dimulai, pengajar menerangkan tajuk kegiatan pokok-pokok yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Siswa perlu memahami unsur-unsur pembangun sastra, berupa latar, alur, watak dan perwatakan, sudut pandang, tema dan amanat. Pengajar bertindak sebagai fasilisator. Selepas kegiatan, pengajar melakukan evaluasi dan memilih gagasan yang baik, serta memilih siswa yang memperlihatkan tindak tutur yang baik dalam menyampaikan gagasannya (Ampera, 2010:69).

5.3 Pengajaran Drama

a) Unsur-unsur Drama

Unsur-unsur drama menurut Tarigan (2011:75—81) yaitu, 1) Alur, dalam drama diawali dengan tahapan-tahapn yaitu, eksposisi, komplikasi, resolusi, klimaks, peleraian dan babak akhir. 2) Penokohan, dalam suatu lakon terdapat pelaku atau aktor yang berperan dalam drama tersebut. 3) Dialog pada drama membantu mempertinggi nilai gerak dan menjadi inti utama dalam unsur-unsur drama. 4) Aneka sarana kesastraan dan kedramaan yang mendukung penampilan pelaku dalam suatu drama.

b) Jenis-jenis drama

Menurut jenisnya drama terbagi atas empat jenis yaitu, 1) tragedi, dapat berupa kisah kasihan karena penderitaan yang ditanggung oleh pelaku utama. 2) komedi merupakan kelucuan yang dihasilkan, yaitu berupa humor, yang kelucuanya tidak dibuat-buat. 3) melodrama, memunculkan rasa kasihan tetapi lebih cenderung ke arah sentimentil dan tokoh utama biasanya menang dalam perjuangan. 4) farce, dalam hal ini contohnya melodrama bagi tragedi, sedangkan farce bagi komedi. Farce dapat dikatakan lebih baik, lebih besar, lebih penting daripada sebenarnya dan penekanan dititikberatkan pada alur dibandingkan penokohan dan karakterisasi (Tarigan, 83—88).

c) Pengajaran Drama dengan Teknik Bermain Peran

Prinsip Teknik Bermain Peran

Bermain peran adalah salah satu teknik yang dapat digunakan pada pengajaran drama. Ampera (2010:38) mengemukakan mengajar sastra dengan teknik bermain peran, yaitu proses belajar mengajar dengan melibatkan siswa untuk memerankan watak-watak yang digambarkan dalam karya sastra. Dengan bermain peran, siswa diharapkan mampu menghayati karya sastra. Melalui bermain peran, siswa akan mendapatkan pengalaman-pengalaman emosi dan estetik, sehingga dapat menunjang perkembangan kecerdasan emosi anak.

Berdasarkan hal tersebut menurut Naffi dikutip Ampera (2010:39) dalam bermain peran pada pengajaran sastra anak dapat dipertimbangkan langkah-langkah berikut:

  1. Rancang situasi bermain peran dengan teliti, di samping mengenali secara pasti masalah-masalah yang akan muncul. Tentukan peran-peran yang diperlukan seperti memilih siswa yang dapat memerankan watak tertentu. Perlengkapan lain yang diperlukan juga harus dipersiapkan. Selain itu, sebelum dimulai, pengajar menerangkan kepentingan perlengkapan yang diperlukan serta peran yang perlu dimainkan dalam kegiatan bermain peran.
  2. Pelajar-pelajar yang mendapatkan tugas untuk memerankan watak tertentu harus dengan suka cita untuk berperan. Hal ini penting karena bermain peran akan berhasil apabila siswa dapat memahami peran yang dimainkan dengan tanpa keraguan untuk bermain.
  3. Ketika satu kelompok ambil bagian dalam melakukan pertunjukan, siswa-siswa lain perlu melakukan apreasiasi. Walaupun tindakan-tindakan spontan, tetapi tidak keluar dari konsep pertunjukan.
  4. Selesai bermain peran, pengajar dan siswa perlu melakukan diskusi seputar kesan dalam bermain peran. Diskusi dapat berupa permasalahan mengenai kekuatan dan kelemahan dalam berperan. Selain itu pula melakukan evaluasi mengenai jalannya kegiatan drama dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.

“Lintang Panjer Isuk” Wes Angslup 1


“Mbak, ana tamu ning ngarepan.” Febi ujug-ujug nyedaki aku lan menehi weruh yen ana tamu kang goleki aku.
“Sapa Feb?” pitakonku karo isih njinglengi gaweyan ing komputer tanpa tumoleh.
“Ora mudeng Mbak, priyayi lanang karo bocah wedok cilik. Wes kana Mbak gek ndang dipethuki dhisik. Gaweyanmu tak terusne.” Saure Febi kang wus siap-siap ing sandingku sak perlu ngenteni gaweyanku.
Aku panggah durung mingset saka lungguhku ing ngarep computer, isih penasaran dening angka-angka kang ora cocok karo kwitansi sing ana ing catetan.
“Uwis Mbak… tinggalen! Tak terusne. Mesakke tamune, selak kesuwen olehe ngenteni. Wong sajake dudu pawongan asli kene wae, saka adoh ketone.” Febi baleni maneh anggone nyaruwe gaweyanku, lan saiki ora gur waton omong wae. Nanging sinambi ngrebut keyboard komputer saka tanganku lan nyurung aku supaya sumingkir saka kursi kang tak lungguhi.
Aku ora bisa nolak maneh, aku ngadeg lan banjur metu menyang ruang tamu ing sisih ngarep ruang kerjaku. Nalika tekan lawangan kang misahke antarane ruang tamu lan lurung gedung sekolahan, saknalika aku mandeg jegreg. Getihku munggah tekan bun-bunan, jantungku deg-degkan ora karu-karuan. Rasane aku ora percaya karo apa kang tak sawang ana ing ruang tamu kuwi.
“Mas Satrio…..” grenengku lirih kanti lathi gemeter.
Iyo, ora salah maneh. Kuwi Mas Satrio. Mas Satrio kang biyen nate ngisi dino-dinoku kang endah. Jaman nalika isih pada sekolah ana ing pawiyatan luhur ing kuta Semarang. Wes sepuluh tahun aku pepisahan karo Mas satrio. Lan tanpa tak nyana-nyana saiki Mas satrio ana ing kuta iki.
Rumangsa ana sing teko, Mas satrio tumoleh marang aku kang isih ngadeg njegrek ing lawangan. Ngerti yen sing teko kuwi aku, Mas satrio banjur ngadeg saka palungguhane sinambi mesem banjur marani aku.
“Assalamualaikum. Kados pundi kabaripun Jeng?” Mas satrio nyapa karo nguluke tangane ngajak salaman.
Tak tampani astane Mas Satrio kanti gemeter lan rasa ati kang isih tida-tida.
“Waa…wa.. alikum salam…” aku njawab salame rada kapedot-pedot saking gugupe.
“Alhamdulillah kabarku sae mas. Mas… sa.. satrio pripun kabare?”
“E… mangga pinarak riyin mas….” Aku nerusake wangsulanku karo ngaturi pinarak marang mas satrio.
“Matur nuwun Jeng.” Mas satrio ngeculke gegeman tangane karo jumangkah bali ana kursi kang dilungguhi sakawit. Dene aku tut wuri ing sak mburine lan banjur lungguh ing kursi dhawa sak ngarepe mas satrio.
“Kabarku, Alhamdulillah sehat uga Jeng. Jeng Rastri isih kelingan karo aku to?” wangsulane karo mesem renyah nalikane aku lan dhewekne wes mapan lungguh.
Durung nganti aku wangsuli pitakone yang pungkasan, Mas satrio ujug-ujug ngadeg karo muni “Oh iyo… sek enteni sedelo yo Jeng.”
Banjur mlaku metu tumuju plataran kantor. Ora nganti sak wetara wes balik mlebu karo gandeng bocah wadon cilik umure udakara limang taunan. Bocahe putih, rambute lurus, mripate blalak-blalak, lan katone bocahe lincah.
“Tiara salim dhisik karo ibu ya wuk yo.” Aku rada njomblak nalika mas satrio nyebut aku ibu kanggo bocah wadon cilik kuwi, nanging rasa kagetku tak tutupi karo esemku nalika nampani tangan cilik kang diuluke marang aku.
“Iki Tiara Jeng, anakku wedok ontang-anting.” Mas satrio ngenalake bocah wadon cilik kuwi, kang tibake anake dhewe. Tiara nyekel tanganku banjur ngarasi tanganku.
“Aduh… pintere cah ayu…” ngomongku karo bales ngarasi pipine kang nyempluk semu abang. Pengen rasane aku nyiwel pipine kuwi.
“Tiara, endi mau oleh-oleh sing arep diature ibu.” Mas satrio ngelikake anake wedok karo mesem nyawang aku wong loro.
Rumangsa dielikake, Tiara saknalika mlayu tumuju mburi kursi sisih tengen kang cedak karo jendela. Banjur mlayu balik maneh marani aku karo ngulukne bungkusan kado werna jambon.
“Ini buat ibu.” Ujare karo lungguh njejeri aku.
“Apa iki sayang…” aku nampani kado kang diulukne karo ngrangkul pundake. Aku isa rada nguasani kahanan saikine lan atiku iso luwih rileks, santai, ora gugup maneh.
“Oleh-oleh buat ibu.” Wangsulane cekak.
Aku mesem, lan sepisan maneh tak arasi pipi kang gemesake kuwi.
“Matur nuwun nggih cah ayu…” aku ngucap panuwun karo ngelus-elus rambute kang lurus lan alus kuwi.
“Oh iya mas. Tindak mrene kok mung karo Tiara. Lha mamahe Tiara endi?” tekonku marang mas satrio karo ngalihake payawangku mring Mas Satrio.
Ana wangsulan kang dak tampa. Mung eseman kang metu saka lathine mas satrio, tanpa ana ukara kang kumecap kanggo wangsuli pitakonku mau.
“Ibu… Sekolahane luas banget ya?” Tiara ujug-ujug nyelani anggonku ngenteni wangsulane mas satrio, nganggo basa kang campur-campur antarane basa jawa lan Indonesia. Maklum Tiara lahir ana ing kuta Jakarta kang dhuweni budaya sing majemuk.
“Oh… iya sayang. Ini namanya sekolah terpadu. Tiara mau sekolah disini?” aku mangsuli pitakone karo basa Indonesia.
“Hi.. hi… Mau. Emang ada TK-nya?” Tiara ngguyu karo balik takon maneh.
“Wow.. ya ada tho cah ayu. Nek Tiara sekolah disini, nanti dari TK bisa langsung ke SD, SMP, dan SMA sekalian disini. Mau ya sekolah disini?”
Aku ngrasa Tiara iki bocah sing cerdas lan lantip. Ndeleng saka cahya ing mripate kang sumunar padang ngatonake bakat kang sumimpen lan bakal dadi pangeram-eram ing tembe mburine.
Aku, Tiara, lan Mas satrio banjur kagubet ing rembug kang werno-werno kang njalari antarane aku wong telu dadi sangsaya akrab lan sumandulur. Nganti ora krasa anggonku jagongan wes luwih saka sak jam setengah kurang sithik.
Rumangsa wes cukup anggone omong-omongan, mas satrio medot anggonku lagi caturan karo Tiara.
“Emmm… Jeng. Nyuwun sewu. Menawa hotel sing cedak-cedak kene ana ora yo? Iki mau, aku karo Tiara saka bandara langsung jujug kene. Lan durung kober golek-golek panggonan nginep. Selak kangen Ibu jare Tiara.” Mas satrio takon karo mesem ngemu teges kang beda, tak bande saka omongane kang keri dhewe.
Aku mesem karo batin ing jero ati “Alah sing kangen ki Tiara apa sapa to mas.”
“Oh.. sek sedela yo mas. Aku tekon karo konco-koncoku dhisik. Apa selak kesusu po mas?” aku nyawang mas satrio.
“Iyoo… ora penak ngobrol suwe-suwe wayah jam kantor ngene iki.” Saure.
Aku banjur menyat saka lungguh, banjur mlebu memburi goleki febi maneh sak perlu tekon hotel sing cedak-cedak kene wae, kaya welinge mas satrio. Sak wise oleh pituduh saka febi, aku banjur mbalik marani mas satrio ing ruang tamu.
“Aduh… gek pada serius ya.” Sapaku marang mas Satrio lan Tiara kang lagi pada guneman sinambi ndeleng iwak ing jero akuarium.
“Iki lho mas, aku wes oleh informasi hotel kang cedak karo kene.” Ujarku sakbanjure karo nuduhke brosur hotel kang disilihi dening febi.
“Panggonane nyaman lan ora patiya rame, masakane enak-enak. Cocoklah karo selerane jenengan mas.”
“Tak telponke sek yo mas, nek kersa.” Aku nyoba nawarake kanggo mesen kamar.
“wes, ora usah Jeng. Aku tak mrana wae langsung check-in. Kiro-kiro nek saka kene aku kudu mlaku menyang ngendi?” mas satrio nolak tawaranku.
“Oh ngana, yo wes yen ngana.” Aku ora sido mijet hape kang wes tak gegem.
“Saka kene, Jenengan mengko nyabrang terus mlaku nurut trotoar mengiwa. Kurang luwih rong atus meteran ana Bank BRI. Lha jejere kuwi ana Hotel Kartanegara, panggone rada mlebu dadi ora katon yen disawang saka dalan gede.” Aku menehi ancer-ancer marang mas satrio dununge hotel kang dak karepake.
“Ok. Yen ngana aku pamit dhisik. Oh iyo aku njaluk nomor hape-ne, mengko bengi yen ana wektu kersa to, saumpama ngancani Tiara makan malam?” Mas satrio pamitan sajak wes mudeng banget panggonan hotel Kertanegara, karo ora lali njaluk nomor hape-ku lan nawani ketemu maneh mengko bengi.
“Yo Insya Allah Mas. Aku mengko bengi iso kok ngancani Tiara. Iki nomor hape-ku ana neng kene.” Jawabku karo ngulungke kartu namaku.
Mas satrio nampani kartu nama, diwaca sedela banjur dilebokne sak kemeja batik lengen cekak kang dienggo. Banjur ngawe Tiara supaya nyedak marang aku lan bapake.
“Tiara, kondur sek yoo. Salim dhisik sama Ibu.” Prentahe marang anake wedok nalika wes cedak.
“Tiara pulang dulu ya…” bocah wadon kenes kuwi nyalami lan ngarasi tanganku kaya nalika sepisan kenalan mau isuk.
“Wes yo jeng, pamitan dhisik. Assalamualaikum.” Mas satrio pamitan karo ngandeng Tiara metu saka ruang tamu tumuju hotel. Aku nguntapake tekan teras ngarep ruang tamu kantorku, tak enteni nganti wong loro kuwi metu saka regol sekolahan. Aku isih sempat males eseme Tiara kang kober mlengak sinambi dada.
------------$$$$-------------
Wengi kuwi, Mas satrio sido ngundang aku mangan bengi bareng ana ing hotel kertanegara panggonane nginep. Rada ngguyokane yen dieling-eling, ing ngatasi aku sing dadi tuan rumah ing kuta kuwi nanging malam Mas satrio sing aweh undangan jamuan makan malam. Ing wengi kuwi aku nyambangi mas satrio lan tiara ora dhewekan, ananging aku dikancani dening calon bojoku. Idep-idep sisan arep aweh kejutan marang mas satrio.
Iyo kejutan kang ora dinyana-nyana dening mas satrio. Biyen aku nate omong marang mas satrio, aku iso dadi apa wae sing aku pengen. Malah kadangkala karo keputusan-keputusan sing babar pisan ora ana ing jero pikirane. Kaya keputusan sepuluh taun kepungkur nalika aku luwih milih misah klawan dheweke, tinimbang natoni atine koncoku kang saiki dadi sisihane.
Acara makan malam wengi kuwi kanton regeng banget. Mas Satrio sajak akrab banget karo calon bojoku, ngobrol ngalor ngidul kaya-kaya konco lawas sing wes suwe ora ketemu. Dene aku luwih akeh omong-omongan karo anake wedok. Aku kesengsem banget karo bocah cilik iki. Ngomongane jan ngecipris ora ana entek-entek, kadang kala aku nganti kuwalahen ngladeni pitakonan-pitakonane kang kritis.
“Lha Mas satrio, rencanane pinten dinten wonten mriki?” keprungu calon bojoku tekon rencanane mas satrio arep nginep ing kutaku. Aku nyoba melu nggatekake wangsulane mas satrio senajan isih karo ngajak guyon Tiara.
“Rencanaku bangsa rong dino apa telung dino ning kene. Nanging ketone ora sido.” Wangsulane karo ngulate calon bojoku lan aku genti-genti.
“Lho kok mboten sido, kengin napa mas?” calon bojoku nyoba pengen weruh sebabe.
“Anu.. anu mas. Niki mau wonten telpon saking kantor, jare sesuk ana kunjungan saka wong Jepang. Wong kantor pusat arep mriksa proyek-proyek kang lagi dadi tanggungjawabku.” Ngana mas satrio menehi alasan anggone arep cepet-cepet mbalik Jakarta sesuk esuk.
“Wah kok kesesa banget nggeh mas?” calon bojoku sajak rada getun.
“Lha wes piye maneh…..” saure mas satrio kepungru rada angluh suarane karo mripate nyawang aku.
Ora rinasa wengi sangsaya dalu. Tiara wes keturon ana pangkonku. Aku lan calon bojoku banjur pamitan mulih, sakwise masrahake Tiara menyang gendongane Bapake. Nalika jupuk anake wedok saka gendonganku, mas satrio nyawang aku kanti panyawang kang beda banget. Panyawang kang nembus jero ngliwati mripati tumuju telenging atiku. Atiku rada keder nampani panyawang kang kaya mengkana. Ana sorot cahya mripat sendu kang sepuluh tahun kepungkur nate natap ing jero atiku.[ana candake]

Lintang Panjer Esuk Wes Angslup [2]

Esuk kuwi aku lagi ibut resik-resik kamar, kebeneran dino kuwi dino minggu. Dadi aku akeh wektu kanggo resik-resik kamar mess kang disediyani dening yayasan panggonku nyambut gawe. Lagi nedeng-nedenge ngresiki rak buku karo ngrungokne radio, ujug-ujug hapeku muni. Ana sms kang mlebu sajake, aku kelingan yen dino iki aku janji arep mlaku-mlaku karo calon bojoku. Gageyan aku nyandak hape kang gemletak ing kasur, mbok menawa sms saka dhewekne.
‘Jeng, Aku lan Tiara wes boarding pas kanggo penerbangan jam 10.00 saka Sepinggan. Sepurane wes ngrepoti Jenengan.” Oh jebul sms saka mas satrio.
Aku lagi arep mejet hape kanggo bales sms-e, hape-ku wes muni maneh. Ana sms siji maneh sing mlebu, aku wurung balesi sms-e mas satrio, lan milih bukak sms kang ngentas wae teka.
“Sakjane tekaku mrene iki, arep njaluk slirane supaya dadi sesulihe Ibune Tiara sing wes marak Gusti setaun kepungkur. Nanging aku pranyata telat. Selamat yo jeng, Muga-muga jeng rasti bahagia.”
Pleg… atiku kaya didodog. Awakku gemeter lan lemes saknalika, dadi mau bengi kuwi mas satrio wes goroh marang aku. Mas satrio balik Jakarta cepet-cepet ora merga ana tugas, nanging sak temene atine kuciwa marang kejutanku.
“Duh Gusti… sepuranen aku yo mas. Aku ora graita babar pisan marang kekarepanmu teka mrene kanthi ndadak iki.” Ora krasa pipiku teles dening eluh kang tumetes merga saking rasa trenyuh campur getunku. Aku ora nyelaki yen sejatine atiku isih mendem rasa tresna marang Mas satrio. Lan aku uga ngerti banget yen sejatine mas satrio isih nyimpen aku ana ing njero atine. Salahku geneye ora tanggap ing sasmita nalika limang sasi kepungkur mas satrio kirim email kang surasane nakoni kasediyanku menawa diajak urip bebarengan maneh. Nalika kuwi aku mung mangsuli “Yo mas, tak pikir-pikire dhisik.” Pranyata wangsulanku kuwi didadekne piandel dening mas satrio. Emane mas,emane kenangapa jenengan kok ora crito yen saiki wes dhewekan maneh.
-------$$$$------
“Mas satrio…. “ aku undang-undang rada rangu-rangu marang pawongan kang ngadeg ngungkuri aku. Pawongan mawa klambi batik motif kopi pecah-pecah lengen dhawa, kang pada-pada lagi ngestreni acara wisuda ing Universitas Gadjahmada.
Rumangsa ana sing ngundang jenenge, pawongan kuwi banjur mlenggak memburi. Meneng sautara karo ngulatke aku mengisor mendhuwur.

“Mas iki aku mas, Rastri…” aku nyoba mbaleni nyapa kanthi nyebut jenengku.
“He he… Jenengan to iki jeng. Masya Allah, pangkling aku Jeng.” Ngomonge sajak surprise banget.
“Piye-piye kabare Jeng.” Ucape sak banjure nakoke kabarku.
“Apik mas. Jenengan kok wes katon sepuh to mas?”
“Hehe yo wes ngene iki Jeng. Umur rak iso diendek. Sing penting sehat. Lak yo ngono to jeng” saure.
“Lha iki gek ngestreni putrane wisuda uga apa piye?” takone.
“Iyo mas. Wisudane anak lanang.” Wangsulanku.
“Lha endi putrane?” mas satrio goleki anakku lanang karo ngubengke payawange goleki anak lan bojoku.
“Lagi nyang mburi, ngeterke Bapake.”
“Lha jenengan dhewe?” aku mbalik takon.
“Aku yo lagi ngancani Tiara wisuda iki.” Jawabe.
“Oh… cah ayu biyen kae yo mas?”
“Iyoo… saiki bocahe kan lagi lulus S2-ne. Lha kuwi apa bocahe mrene.” Njlentrehe karo nudungi pernahe bocah wedok kang nyandang toga werna biru tua. Katon ayu banget.
Aku ngenut arah drijine mas satriyo, aku ora bakal lali karo sorot mripat rongpuluh taun kepungkur. Sorot mripat bocah wadon cilik kang manja banget marang aku.
“Tiara, iki Bu rastri. Salim dhisik nduk.” Prentahe mas satrio nalika tiara wes nyedak.
Kanti sopan, bocah wadon ayu kuwi nyalami aku lan ora lali ngarasi tanganku. Aku bales karo ngrangkul lan ngarasi pipi gemesake biyen kuwi. Kang saiki wes dadi prawan ayu.
“Isih kelingan ora cah ayu karo Ibu?” tekonku marang dhewekne.
Tiara mung mesem karo isih nyawang aku. Mbok menawa karo ngeling-eling pernah ketemu karo aku kapan lan ana ngendi.
“Ha ha….. wes lali sajake Jeng.” Mas satrio sing mangsuli pitakonku.
Aku mesem karo terus takon “Lha iki terus kapan nak Tiara arep dimantukne?” gunemku karo nglirik Tiara.
“He he mbuh kuwi jeng. Sakkarepe bocahe. Wong bubar wisuda iki mengko malah langsung bablas mambur ning Jakarta terus mblandang dines ning Prancis. Mboh sapa iki mengko sing arep ngurusi aku ndek kene.” Mas satrio mangsuli karo ngepuk-epuk pundake anake.
“Ngomong-ngomong, ning Yogja iki arep pirang dino Jeng?” tekone neruske olehe jagongan.
“Lho, aku saikikan manggon ning Yogja mas. Wes meh setahun iki.” Wangsulanku.
“Wow alah… tiwas kebeneran yen ngono. Aku ana bakale ora kesepen ditinggal dening Tiara. Aku saiki yo leren ning kene kurang luwih karo tengah taun.” Mas satrio sajak seneng lan mesem marem nalika ngerti yen saiki aku wes pindah ing Yogja uga.
----------$$$$---------
Sakwise sapatemon kang ora kajarag kasebut, antarane keluargaku lan mas satrio dadi akrab. Prasasat mas satrio kaya wes dadi sedulur dhewe tumpram aku lan anak bojoku, kang ora mangerteni menawa biyen nate ana crito liya antara aku lan mas satrio.

Lan esuk iki, ganep ing yuswane mas satrio kang kaping suwidak telu taun. Aku isih lungguh njegreg dhewekan ana ing teras rumah sakit Dr. Sardjito. Eluhku tumetes nelesi pipiku kang wes ora kenceng maneh, ngancani turahan tangisku kang isih mingseg-mingseg.
Sewengi aku ngancani mas satrio ing wektu-wektu akhir hayate ing rumah sakit iki. Subuh mau, nalika adzan subuh ngumandang ing mesjid; mas satrio tangi dadakan saka komane. Kapinujon aku lagi lungguh ing sandinge. Melek byar, katon pasuryane kang seger kaya ora lagi nandang lelara. Sorot mripate tajem, tajem kaya nalika isih muda taruna. Kang nate gawe atiku trataban biyen.
“Jeng… kok jenengan neng kene. Loh aku iki ning endi jeng?” pitakone.
“Iya mas, iki aku rastri. Jenengan saiki lagi ing rumah sakit. Mas satrio wes telung dino iki koma sakwise tiba kepleset ing kaliurang wingi kae.” Aku njlentrehke alon-alon. Tangane kang temumpang ing dadane tak cekel alon-alon. Aku ngrasake hawa kang lembut lan anget ing dhuwur dadane.
Mas satrio mesem alus, banjur njaluk tulung aku supaya bantu olehe arep tangi saka peturon.
“Jeng… aku pengen sholat. Tulungana aku sedela.”
“Mas… mas sarean wae dhisik. Aku tak ngundang dokter piket yo.” Aku nyoba nahan mas satrio supaya ora tangi-tangi dhisik lan arep ngundang dokter ben mriksa kahanane.
“Ora usah jeng…. Aku selak pengen sholat.”
Sidane aku ngalah, lan nuruti kekarepane. Mas satrio banjur tak tuntun menyang kamar mandi.
“Lha garwane endi. Kok dhewekan?” karo mlaku mas satrio isih kober nakonke bojoku.
“Ana mas. Lagi menyang mesjid, sholat subuh.” Wangsulanku.
Sak wise mas satrio mlebu jading, aku banjur golek sajadah. Kebeneran aku sangu sajadah saka omah, terus tak gelar ing sisihe dipan mujur ngulon.
Ngerti yen wis dicawisake pangonan sholate, mas satrio banjur miwiti anggone sholat subuh.
“Allah.. hu akbar…” ora suwe mas satrio wes katon khusyuk anggone shalat subuh. Karo ngenteni anggone sholat, aku lungguhan ana ing kursi cedak jendela. Kordene tak bukak saengga aku bisa nyawang lintang Joko Belek kang isih padang sumunar. Aku dadi kelingan marang puisi kang nate ditulis dening mas satrio kanggoku biyen. Puisi kuwi isih tak simpen nganti saiki. Aku mesem nyawang lintan Panjer Esuk kuwi kang ngelingake aku marang crito-crito lawas kang endah lan romantis antarane aku lan mas satrio.
Lamunanku buyar nalika aku sadar yen mas satrio olehe sujud sajak suwe banget. Kuwatir yen ana apa-apa, aku banjur nyedaki mas satrio kang isih sujud kuwi.
“Mas…. “ aku nyoba nanggu kekhusyukane merga kegawa rasa was sumelang.
“Mas.. mas satrio.” Tak baleni anggonku celuk-celuk kanti suara alon.
Merga ora ana reaksi, akhire tak wanek-wanekake nggugah anggone sujud. “Mas… mas satrio…” lengene tak candak karo setengah tak hoyag-hoyag. Panggah meneng wae….
“Mas… Masya Allah…. Mas…. Innalillahi……” tangisku pecah saknalika bareng aku ngerti yen pranyata mas satrio wes ninggalake ragane kanggo selawase. Bali ing alam kelanggengan tumuju marang Gusti kang tansah disuyudi sak suwene iki.
Saiki kari aku dhewekan kang meneng angluh ing emperane rumah sakit Sardjito iki. Lintang Panjer Esuk wes anglsup digenteni dening esuk kang rantak-rantak ing bang-bang wetan. Lintang kuwi angslup gawa janji prasetya kang nate diucapke marang aku. Aku isih kelingan ujare biyen, yen to mati suk-emben pengen mati ing kahanan sujud amarga ing mangsa sujud kuwi, jarene jarak paling cedak antarane kawula lan Gustine. Dheweke uga janji yen bakal tansah nurahake separo atine kanggo aku. Lan kuwi kabeh disembadani……

Bintang Fajar
Kala kau terjaga dari tidur malammu
Ketika kau terbangun dari mimpi indahmu
Sempatkanlah sejenak menengok aku
Disisi timur tempatmu berdiri.....
Kala sang fajar masih samar-samar bercahaya.


Aku menunggumu disitu...
Ada salam yang hendak kusampaikan
Dari seseorang yang merindukan cintanya.
Disana akan kau dapati aku yang bersinar terang.


Sadarilah bahwa disaat yang sama
Ada seseorang disisi lain bumi ini
Sedang tersenyum menatapku juga
Menitipkan salamnya buatmu.

Disana kelak dia akan berdiam
Menunggu dan menanti
Kehadiran cintanya yang sejati.


Kuwi puisi sing biyen ditulis dening mas satrio kanggo aku. Saiki Lintang kuwi wes angslup bali ing papane sakawit. Aku mung bisa dedonga lan ngucap… Sugeng tindak Lintang Panjer Esukku.
[Kaya kang arep dicritakake dening Rastri wolu likur taun candake].

JEJEG


Jaman sing wes maju kaya saiki, kang sakkabehi wes sarwa elektronik isih ana wae kedadeyan-kedadeyan kang ora tinemu nalar. Kaya kedadeyan kang dak alami dhewe watara sasi kepungkur nalika pinuju mudik ing omahe wong tuwaku, karo bojo lan anakku loro. Sing barep umur limang taunan, dene adine isih umur udakara patang sasinan.
Omah kang dipanggoni dening wong tuwaku, pancen kapernah ing pinggiran kuta. Sisih mburi omah ana kali gede, lan ing sabrang kali kuburan umum kang dikebaki dening wit-wit barongan pring petung kang rungkut lan katon singup. Saben wayah bengi manuk daradasih muni ngaluk-aluk gawe suasana tambah sangsaya tintrim.
Ing sawijine surup ngadepake bubar magrib nalika suasana wes mulai repet-repet peteng, bapak lan ibuku ujug-ujug pada ribut mlayu menyang buri omah. Tumuju ing papan pemeyan kang biasane kanggo mepe klambi. Aku kang nalika semana lagi wudhlu melu-melu mlayu menyang buri omah nuntuti simbahe bocah-bocah.
“Wonten napa Pak?” aku nyoba takon marang Bapak kang lagi dremimil maca donga. Dene ibu katon lagi ibut ngentas popoke anakku kang mau sore dikumbahi dening sisihanku.
“Kuwi ana Jegeg.” Bapak mangsuli cekak, karo isih neruske olehe donga.
“Jegeg?” pitakonku maneh karo mlaku tumuju pemeyan sak perlu ngrewangi ibu ngentas popoke anakku, ana rasa kuatir lan was-was ing jero atiku. Mbuh merga saka keweden apa saka kagawa rasa kagetku nalika Bapak lan ibu pada mlayu mau.
“Jegeg kuwi napa to Bu?” aku isih penasaran karo barang apa kewan siji kuwi, lan saiki nyoba takon maneh karo ibuku sinambi ngewangi ngentas pemeyan.
“Kuwi bangsa alus kang seneng gelek mangsa bayi kanggo pakane.” Ibu nyoba njlentrehake marang aku.
“Lha ibu kok pirsa nek wonten Jegeg ajeng mriki?” tekonku maneh.
“Apa kowe mau ora krungu suara Weg.. weg.. kurrr….. weg.. weg… kurr….” Ibu malah ganti takon marang aku.
“Nggih miring wau.” Jawabku.
“Lha yo kuwi mertandani yen ana Jegeg.” Ngrenenge ibu.

Bubar mangan bengi, wong sak omah pada kumpul ing ruang tamu. Bapak mangku anakku sing gede, dene ibu ngendong anakku bayi karo pinarak ing dhuwur amben dijejeri karo bojoku. Aku lungguh ing kursi jejer Bapak, karo nyomak-nyamuk ngemil kacang godog aku nyoba nlesih perkara jegeg. Aku isih penasaran karo barang siji kuwi.
“Jegeg niku rupane kados napa to Pak?” aku bukani rembug.
“Mbuh aku dhewe yo durung tau meruhi dhewe.” Saure bapak karo mripate ngulate menjaba. Karo ngelus-ngelus sirahe anakku kang ana pangkone, bapak banjur bacutake ukarane.
“Ning biyen nalika aku isih cilik, tau mrangguli ana bocah bayi mati merga dipangan jegeg. Nalika semana wengi watara jam loro bengi aku ujug-ujug nglilir saka anggonku turu. Bengi kuwi tak rasakna kaya sepi banget, angin wae ora sumilir senajan wengi kuwi padang bulan. Nalika arep balik ngeremke mripat, bapak krungu suara kaya mau surup. Weg… weg… kurr…. Weg.. weg… kurr…. Ngono kuwi ambal-ambalan. Bapak banjur nyoba ngincen saka bolongan gedeg kamar, wektu semana wong isih cilik dadi yo durung wani metu saka ngomah yen wayah bengi. Tur ya jaman semana ora kaya jaman saiki lampu wes pating klencar, omah isih arang-arang lan jarake rada adoh antara siji lan sijine.”
Bapak mandeg anggone crita, nyandak cangkir isi wedang jahe di sruput sajak nikmat banget.
“Lajeng dospundi Pak?” aku ora sranta ngrungokake bacute crita.
“Bareng tak inceng, kahanan ing njaba omah ora ana apa-apa. Ning suara jegeg mau isih keprungu, saka rumangsaku suara mau sangsaya ngetan… sangsaya ngetan… tumuju ing pernah omahe mbah karni saikine.”
“Mbah karni, simbahe ratno Pak?” aku nyelani
“Iyoo… “ saure Bapak.
“Ah.. bapak ki nyela-nyela critane Mbah kakung wae.” Anakku protes, jebule pada melu ngrungokne critane Bapakku. Aku gur mesem karo nyaut kacang godog maneh.
“Lha ora watara suwe, ujug-ujug ana bayangan mak bleber kaya bangsa iber-iberan terus mlangkring ing pager wetan omah. Persis ing ngarep panggonanku ngincen saka bolongan gedeg sentong. Bentuke kewan mau kaya manuk merak ning, wulune abang semu ireng ana cenggere kaya pitik jago, ning anehe kewan mau murub kaya geni. Kewan mau banjur kluruk…. Cekekerrrr……. Kaya kluruke jago kate ngono kae. Bubar kluruk trus ilang mak lap ngono wae. Bapak banjur kluruban sarung merga saking wedine.” Ngono bapak mungkasi anggone crita.
“Lha trus…??” aku isih penasaran.
“Yo kuwi, esuke ana kabar yen anakke ragil Mbah Karni mati ndadak. Kulit mlepuh abang-abang kaya kulit kesiram banyu panas. Jare wong-wong dipangan jegeg, mbok menawa yo jegeg sing tak weruhi bengi kuwi.” Wangsulane.
“O.. berarti jegeg niku kados manuk ngoten niku nggih Pak.” Aku nyoba gawe kesimpulan.
“Dudu… kuwi dudu jegeg-e. Sing diweruhi dening Bapakmu kuwi sing anggon Jegeg.” ibu malah sing nyauri kesimpulanku mau.
Karo nyawang ibu, aku banjur nanjakake “Lajeng jegegipun piyambak wujud-e kados napa?”
“Jarene uwong-uwong sing tau mrangguli, jegeg kuwi wujud-e endase kaya ndas kucing ning awake kaya kirik. Ilate melet dhawa klembreh lemah, wernane abang malat-malat kaya geni. Mripate mlolo mencorong.” Ngono ibuku olehe wenehi gambaran wujud-e jegeg.
“Mau kok tujune aku lan bapakmu age-age mlayu ngentasi popoke anakmu, saumpama telat sithik mau, gek kepriye.. putu sing bagus iki.” Ibuku matur ngana karo ngambungi anakku sing cilik.
“Lha napa wau pun cedak napa Pak?”
“Genah mau pas Bapak bukak lawang pawon karo maca Al-fatekah jegegke langsung pada mlayu ngulon urut pinggir kali, apa kowe ra weruh? Mulane sesuk-sesuk maneh aja mepe popok bayi ana njaba maneh” wangsulane ibuku semu maido marang aku lan sisihanku. Aku mung meneng wae karo isih ngletisi kacang godog, setengah percaya - setengah ora percaya marang critane bapak lan ibuku kuwi.
-------$$$------
Esuk kuwi aku sanja menyang omahe Dhakir, konco dolanan nalika isih cilik biyen. Konco anggon kebo lan golek welut ing sawah. Dhakir wes misuwur minangka bocah kang kendel lan ora dhuwe wedi. Papan gawat keliwat-liwat, yen kanggone Dhakir malah kaya panggonan dolanan kang paling nyenengake. Ora gumun wong bocahe pancen senengane tirakat ing papan-papan wingit. Mula saiki bareng tuwa yo dhuweni keahlian sithik-sithik ing babagan alaming lelembut.
Olehku dolan ing omahe Dhakir, sakliyane kepengin ketemu kanca lawas uga ngemu karep liya. Yaiku arep ngajak Dhakir golek sisik melik perkara kewan Jegeg kang wingi arep mangsa anakku.
“Kir… kowe po tau ngerti Jegeg?” aku takon marang Dhakir sakwise cerita ngalor kidul lan kabar kinabaran.
“Tau krungu… ning rung tau kepethuk karo barange.” Saure. “Oh iyo malah lagi wingi magrib nalika liwat ngarep omah bubar saka jamaah, aku krungu suara jegeg baung.” Omonge sakbanjure.
“Lha yo kuwi Kir, jare wong tuwaku bangsa lelembut kuwi lagi ngincer anakku.” Sautku.
“Mula saka kuwi aku ki mrene, sepisan arep silaturahmi. Ping pindone arep ngajak kowe nyekel jegeg kuwi. Kowe kan ahline yen perkara bangsa-bangsa kasat mata ngene iki Kir.” Sambungku.
“he he… “ Dhakir guyu gleges.
“Piye Kir, kok malah guyu.” Sambungku maneh.
“Lha terus karepmu piye?” Dhakir mangsuli.
“Ngene Kir, piye yen saumpama Jegeg kuwi di jebak. Dijebak kanthi cara dipasangi popok bayi, trus disanggong wong loro. Mengko yen Jegegke njedhul banjur cekelen. Mengko aku tak siapke kamera infrared barang kanggo njupuk gambare wewujudan Jegeg kuwi mau. Piye Kir, setuju po ora?” mengkono anggonku jlentrehake rencanaku marang Dhakir kanti semangat merga aku penasaran banget karo jegeg.
“Hmmm yoo… lek ngana telung dina engkas rencanamu kuwi diwujudne. Aku tak nyiapake umbarampe kanggo ngala Jegege.” Wangsulane karo manggut-manggut.
“Kok leren ngenteni telung dino to Kir? Po ra isa mengko bengi apa sesuk bengi wae?” aku kurang setuju yen kudu ngenteni telung dina maneh kanggo nglaksanakake rencanaku mau.
“Mbok pikir gawean kaya ngana kuwi ora perlu disyarati barang po?” Dhakir nyauri karo nyawang tajem marang aku.
“Oh… ngana ya.?” Aku tumungkul.
“Tur maneh bangsa alus kuwi yo pinter, wingi wes conangan ora bakalan balik maneh ing wektu cedak-cedak iki. Paling ora golek lenane sing arep dimangsa.” Sambunge maneh.
“Yoh… yoh… aku manut wae karo kowe Kir. Lek ngana aku saiki tak balik sek yo” aku mungkasi rembug karo Dhakir sisan pamitan mulih merga tak kira wes cukup anggonku rembugkan karo Dhakir.

Ing dina katelu sesuai karo rancangan sakkawit, aku lan Dhakir sore kuwi wiwit tata-tata ubarampe kanggo wujudake rancangan nyekel jegeg. Slendang bayi, kembang boreh lan minyak telon dicawisake dening Dhakir. Aku nyiapake kamera infraredku lan popoke anakku kang isih teles kanggo pancingan. Ubarampe kang pungkasan iki sakjane gawe tida-tida ing njero atiku, sebab yen nganti si jegeg kedarung dilat popoke anakku bakal kejoderan tenan aku. Ning merga kuwi syarat utamane, mula tak tatagke atiku.
“Tenang wae, kowe rak sah kuatir yen nganti popoke anakmu di dilat jegeg. Mengko popok kuwi bakale tak ‘pageri’ “ ngono pratelane Dhakir sajak ngerti apa kang dadi pikiranku.
Bubar magrib Aku lan Dhakir wiwit basang kala kanggo jebak jegeg, panggonan kang dipilih ana ing tegalane Dhakir kang rada mencil, lan tiwas kebeneran tegalane Dhakir manggon mepet karo pakuburan umum.
Popok bayi wes disampirke ing dhuwur tali kang dibentang ing antarane wit mlinjo karo wit nangka, ngisore dipasangi slendang bayi kang pucuk-pucuke ditaleni nganggo tali lawe, kembang boreh lan minyak telon banjur disok ing dhuwure lendang mau.
“Iki mengko nek jegeg-e pas ing dhuwur slendang iki, awake dhewe kudu enggal-enggal narik tali lawe iki, saengga si jegeg bakal kebuntel ing jero lendang lan gumatung ing pang nangka sisih kene iki.” Dhakir njletrehake teknis kanggo nyekel jegeg.
Sak wise kabeh dipasang, Aku karo Dhakir banjur singidan ing gubug kang jarake watara sepuluh meteran saka papan gasangan. Dhakir nyandak tali lawe kang nyambung marang slendang calon jaringe jegeg. Dhene aku nyiapake kamera infrared kanggo jupuk gambar jegeg.
Sak jam…. Rong jam…. Telung jam… durung ana tanda-tanda yen jegeg bakal metu. Suasana wengi sangsaya mamring, cahaya bulan cukup kanggo madangi kahanan ing kiwa tengenku. Kanggo buang sepi lan rasa bosen aku karo Dhakir tansah guneman klesak-klesik wong loro.
Watara jam rolas benginan, ana suara manuk daradasih muni saka arah wit randu alas ing tengah kuburan. Suasana malih dadi tintrim lan kekes, Dhakir ujug-ujug nyenggol lengenku lan aweh sasmita supaya aku wiwit waspada maneh. Saka waliki bolongan gubug katon wit barongan pring ing pinggir kuburan obah-obah kemrosak. Tanpa dingerteni saka ngendi parane ujug-ujug ing sisih kulone gasangan ana kewan kaya manuk merak werna abang semu ireng mencorong kaya geni kang miber mubeng-mubeng karo wuni Weg… weg… kurrr… Weg… weg.. kurrr….
“Kir… kir… kae kir jegegke teka.” Aku omong lirih marang Dhakir karo wel-welan saking wedine nyumurupi manuk kang ora sakbaene kuwi.
“Tenang… tenang. Kuwi lagi sing anggon sing teka. Suarane kuwi undang-undang marang jegege. Rak sah wedi awake dhewe menungsa kang ditakdirke luwih unggul tinimbang bangsa alus kuwi.” Dhakir ngarih-arih aku.
Temenan ora sakwetara suwe ana wewujudan kang gegirisi banget metu saka walike grumbul ing pinggir tegalan saka arah kuburan. Wewujudan mau persis karo apa sing dicritakake dening ibuku, kewan setengah kucing setengah asu, ilate melet-melet abang, mripate mlolo mencorong, ning anehe mlakune ora mbrangkang kaya lumrahe kucing apa asu. Nanging mlaku ngadeg kaya menungsa.
Jegeg kuwi setengah mlayu marani popok kang wis dicawisake mau, nalika wes arep ngranggeh popok kuwi, Dhakir age-age narik tali lawene kang disambungake marang slendang ing sak ngisore jegeg saiki iki. Jegeg kegubet ing slendang bayi gumatung ing pang wit nangka kaya rancangan sakawit. Polahe ora karu-karuan karo gereng-gereng pengen uwal saka gubetan slendang, anehe suara gerengane malah kaya suarane wong ngeden. Dene manuk kang dadi tukang anggone ribut suaran sang saya rame Weg… weg.. kurrr…. Weg.. weg kurr… karo blebar-bleber nabraki tali. Merga saka kuwate anggone polah tali lawe kang dianggo naleni pedhot. Jegege ucul banjur tangi cekekal lan mlaku marani gubug kang tak enggoni sigidan wong loro. Mripate katon mencorong tajem banget, ilate melet-melet, ilere pating dlewer netes lan tetesane murub kaya geni kembang tetes. Kedadean sakbanjure aku wes ora ngerti, aku semamput ora eling apa-apa merga saka saking wedine.
Weruh-weruh aku wes ana omahe Dhakir, ditunggoni karo Dhakir lan bojone. Bareng sadar aku diombeni banyu putih, popok lan kameraku gumletak ing sandingku.
“Wes aman. Popoke anakmu uga aman saka jegeg.” Omonge Dhakir karo nyawang aku

Kamar Suwung

Wes sewulan iki aku mondok ing kos-kosane Mbah Prawiro. Campur karo konco-konco kuliah kang wes luwih dhisik mondok ing kos-kosan iki. Jarene bocah-bocah, mondok ning daleme Mbah Prawiro kepenak, wonge gemati lan ditanggung ora bakal kaliren yen nganti transferan sangu durung teka. Loman, yen dhuwe apa-apa mesti bocah-bocah pada diparingi, kayata jajan lan kadangkala bocah-bocah uga diparingi maem gratis. Kuwi sing marai bocah-bocah pada krasan mondok ing kene. Bocah cacah limalas kang mondok direngkuh kaya anake dhewe.
Aku dhewe uga melu dadi krasan manggon ing kene. Kejaba kagawa saka watak wantunipun Mbah Prawiro sing gawe ayeme atiku, kang tansah paring pitutur akeh-akeh marang aku lan kanca-kanca. Kahanan kos-kosan kang eyub lan latare jebar uga sangsaya nambahi rasa krasan, kabeh kanca-kanca kos sumadulur. Maklum rumangsa pada-pada lagi prihatin ngangsu kwaruh ing pawiyatan luhur Gadjah Mada.
Daleme Mbah Prawiro model omah joglo kang kaperang dadi telung bagian, omah ngarep, omah tengah lan omah mburi. Omah ngarep lan tengah kuwi kang saiki tak panggoni karo kanca-kanca kos, dhene Mbah Prawiro manggon ing omah mburi. Mbah Prawiro yuswane kiro-kiro wes nyandak antarane 65-70 taunan. Najan wes sepuh Mbah Prawiro isih katon bregas, saben isuk isih sregep tindak langgar lan resik-resik karangan omah. Ana omah mburi, Mbah Prawiro dikancani dening Yu Gemi kang dhuweni kajibahan resik-resik omah, masak, adang, lan umbah-umbah. Mbah prawiro wes urip ijen, mbuh mulai kapan anggone urip ijen. Wong senior-senior sing manggon ing kene sak durunge aku uga mrangguli Mbah Prawiro wes kaya sing saiki-iki. Urip ijen tanpa anak lan uga tanpa mbah Prawiro putri. Yo mung Yu Gemi kuwi kang saben dinane nggladeni Mbah Prawiro.
Sewulan manggon ing pondokan iki, aku sithik baka sithik dadi luwih ngerti lan ngenal lingkungan kiwa tengen. Lan ing pondokan iki, kebeneran aku kebagian manggon ing kamar sisih ngarep, pas ing sisih tengene lawang ruang tamu. Kamarku ngadep ngulon, adep-adepan karo kamar, mbuh kamare sapa. Wong wiwit aku teka nganti dina iki kamar kasebut tansah kuncinan, lan aku durung nate mrangguli bocah kang manggoni kamar kasebut. Mbok menawa sing nyewa pinuju KKN apa gek preinan, aku yo ora mudeng.
Nganti ing sawijining dina, nalika pada cangkruk ing teras ngarep omah; aku sing isih kapitung yunior, takon marang bocah-bocah.
“Mas sing manggon kamar ngarepku kok rak tau ketok yo? Apa gek KKN po yo?”
“Wow…. Cah iki rung ngerti sejarah to!” sing nyauri mas Jatmika, mahasiswa teknik mesin, asli Karanganyar. Disambungi karo bocah-bocah liyane sing pada cekikikan, aku melu mesam-mesem banjur nyambungi.
“Sejarah apa to mas? Mbok aku dicritani.”
“Mal… Jamal… kuwi diterangke. Dijlentrehake masalah kamar misterius, gen ra penasaran.” Mas Jatmika ora mangsuli pitakonku, nanging malah kongkonan Mas Jamal sing lagi asyik udut sedal-sedul ing lincak. Sing dikongkon malah nyedot rokok-e jero banjur kebule disebul kenceng mendhuwur, sinambi nguyu ngatonake untune sing loreng-loreng ireng putih merga kakean olehe seneng udut.
“Sst…. Heh ndul mengko kowe nek bar tak critani aja njuk pindah pondokan lho yo.” Mengkana Mas Jamal bukani critane.
“he he…. Lha emange ngapa to mas?” aku gumuyu lan sangsaya penasaran karo omongane mas Jamal.
“Wes mal… langsung wae. Rak sah kakean pertimbangan.” Mas jatmika nyelani rembug.
“Kowe ngerti rak?” bocah-bocah banjur pada meneng karo nyomak-nyamuk ngemil kacang godog olehe aweh Yu Gemi nalika mas Jamal miwiti olehe crito. Aku uga melu meneng ora nyauri pitakone mas Jamal, merga pancen kuwi dudu pitakon kang kudu tak wangsuli.
“Kamar kuwi, saben malem jumat wage….” Mas Jamal meneng sedelo karo ngrawuk kacang godog saka piring.
“Lampu kamar-e kae, saben bengi tengah wengi sok murub dhewe. Banjur kadang kala keprungu suarane kaki tuwa kang ngrintih-ngrintih, kaya-kaya lagi ana sing ditangisi. ” Sambunge karo ngletisi kacang.
“Padahal…… kowe ngerti ra? Kamar-e kuwi genah kuncinan rak tau dibukak.” Tutuge karo nyeleh kulit kacang kang ana gegemane ing asbak rokok
“Apa sampeyan ora tau ngincen saka jendela mas?” tekonku penasaran.
“Weee….. aja neh kok ngincen saka jendela. Wong arep nyedak wae wes mrinding kabeh je. Apa maneh jendela kuwi rak tau dibukak.” Saure.
“Kowe wes ngerti rung? Ning pawon sing biasane mbok liwati yen arep adus kae, ana kuburane cilik. Hiii……” Yitno ujug-ujug melu nambahi critone mas Jamal.
“Ah… mosok Yit? Ning sisih endi aku kok rak ngerti.”
“Lha kowe apa rak tau mambu menyan lan kembang kuburan yen liwat pawon?” Yitno malah malik pitakonku.
“Ya kadang kala mambu sih.”
Pancen tak akoni dhewe, kadang kala aku sok-sok mambu menyan diobong lan arum-e kembang kenanga yen pinuju liwat pawon. Ning kuwi tak anggep perkara kang biasa tumrape daerah Ngayogjakarta, kang pancen kabudayaan kejawene isih kuat.
“Lha ya kuwi, biasane angger bubar magrib dina selasa, mbuh selasa wage mbuh selasa paing, kuburane kuwi dicaosi daharan.” Yitno njletrehake.
“Njur kuwi maksud-e apa Yit?”
“Lha yo embuh?” saure cekak.
“hmmm……. “ Aku mung unjal ambegan, karo ngiro-ngiro ing njero batin
“Apa mbah Prawira kuwi ngingu pesugihan? Wah nek saumpama iya, gek-gek olehe loman maringi panganan bocah-bocah iki ngemu karep. Bocah-bocah arep dienggo wadal, termasuk aku sing wes melu ngrasakne pawewehe, hiii. Ah nanging aku durung tau krungu crita ana bocah pondokan sing mati ndadak. Apa wadale mengko jupuk saka anak turunku….”
Mikir tekan semana aku banjur nyoba takon marang bocah-bocah, kanthi suara lirih kuatir yen krungu dening Mbah Prawira, mundak dadi gendra.
“Eh… mosok Mbah Prawira ngingu pesugihan?”
“Husshh…. Ora waton kowe kuwi! Genah ne ora to le, wong Mbah-e kuwi sregep ning mesjid lan tahilan jee.” Mas Jatmika sing kagolong paling senior kang mangsuli pitakonku.
“He he…. Sorry mas.” Aku rumangsa salah karo pitakonku kang setengahe dakwa.

OOOOOOOOOOOoOOOOOOOOOOO

Bubar oleh crita saka konco-konco, aku malah dadi sangsaya penasaran pengen mangerteni crita kang sejatine perkara kamar suwung kasebut. Isuk kuwi aku pinuju ora ana kegiatan ing kampus, lan kok ya pas kebeneran udane ngreceh kawit subuh mau. Tak sawang menjaba langite sajak isih peteng lan ora ana tanda-tanda yen udan bakal terang. Kamangka iki wes jam sanga, weteng wes krasa luwe merga durung sarapan. Arep metu golek sarapan kesandung dening udan ngreceh.
Aku banjur ada-ada masak indomie kanggo ganjel weteng senep keluwen. Kesempatan iki mesisan tak anggo buktekne omongane bocah-bocah wingi kae, jare ing pawone Mbah Prawira ana kuburane. Tiwas kebeneran kahanan pawon nalika kuwi lagi sepi, Yu Gemi sing biasane jam yah mono gek masak, sajak-e durung teka saka pasar merga kepothok udan saengga ora isa ndang balik mulih.
Karo ngenteni banyu ing panci umob; aku milang-miling goleki ing sisih endi kuburane kuwi. Ing angen-angenku, kuburane kuwi wangune ora adoh karo kuburan-kuburan ing pemakaman umum ngana kae. Paling ora ana tanda-tanda yen kuwi kuburan, mbuh pathok, mbuh jubine pawon kang digawe rada dhuwur lan wangune digawe kotak ngana kae. Lha nanging aku kok ora mrangguli ciri-ciri kang kaya mengkana kuwi ing pawon iki. Sak ubenge pawon prasasat wes tak tlesih, tekan pojok-pojok pawon uga wes tak jinglengi, ning meksa ora nemu tanda-tanda kuwi.
“Ah… Yitna kae paling gur ngapusi. Gur arep meden-medeni aku wae palingan.” Grenengku.
“Madosi napa mas?”
“Astagfirullahaladzim…….. “ aku jondil kaget nalika ujug-ujug Yu Gemi wes ngadeg ing lawang pawon karo isih nyangking kranjang wadah blanjane.
“Anuu… anuu… ko… ko.. kodok Yu.” Saurku sak kena-ne merga kaget karo keweden yen nganti kaweruhan menawa sejatine aku lagi goleki kuburan.
Yu Gemi nyeleh kranjange ing dhuwur meja karo nyauri
“Woh…. Kodok nggih mas. Ah.. teng mriki niki anggere jawah nggih ngoten niku mas. Kodok bangkak-e sami mlebet griya.”
“Lha nggih Yu. Niki wau kula nembe godog mie, lha kok wonten kodok mlebet saking mriku niku. Kula gusah malah mlajeng mriki niki.” Aku gawe crita goroh kanggo nutupi rasa kuwatirku. Aku banjur ngrampungake gawe mie godog.
“Sluman… slumun….. slamettt…… slamettt……” batinku.
“Pun mas, mang paringke ngisor ngriku mawon pancine. Mangke kersane kula isahi.” Ujare Yu Gemi karo nudingi sisih ngisor meja kompor kang ginawe saka cor-coran semen.
“Nggih Yu, matur nuwun.”
Aku banjur ndeleh panci tilas anggonku godog mie ing ngisor meja. Nalika ndeleh panci kasebut, mripatku nyawang ana blendukkan cilik, dhawane kurang luwih bangsa mung telung puluh centi-nan. Blendukkan kuwi mujur ngalor ngidul, ing sandinge ana kendi cilik sing wes bleduken, uga ana pangaron cilik sing biasa kanggo bakar dupa. Lan sing gawe aku rada gragapan, aku uga mrangguli sisa-sisa kembang lan rajangan pandan wangi kang biasa kanggo nyekar ing sareyan. Aku babar pisan ora ngira yen sing tak goleki jebul papane malah ana ing ngisor kompor.
“Hmmm…. Yitna ora goroh. Apa kuwi mau sing dikarepake kuburan dening Yitna.” Aku benerake omonge Yitna, karo ngrahabi indomie rebus ing jero kamarku. Sauntara kuwi udan ing njaba wiwit riwis-riwis tekane, lan langite wes rada padang sithik, senajan thatit lan gluduk kadang kala isih byar-byar saut-sautan ing angkasa. Panyawangku tak sawatake marang lampu merkuri PLN kang isih murub merga kasinungan mendung. Dene pikiranku mbleyang nggagas blendukan cilik ngisor meja kompor mau.
“Ning saumpama bener kuwi kuburan, kok dhawane lan wangune gur sakmana? Ora kaya kuburan-kuburan biasane ngana kae. Yen gur sakmana kuwi pantese rak kuburan kucing. Kaya biasane yen aku ngubur kucing sing mati ning omah ngana kae. Nanging yen kuburan kucing, kok nganti diramut kaya mengkana. Ndadak dibakari menyan, diwenehi kendi lan kembang kaya patrape kuburane uwong mati.”
Angen-angenku yo gur mung tekan semana, lan ora arep golek sisik melik apa sing sak bener-e sing sumimpen ing ngisor meja kompor kuwi. Merga sing genah paling ngerti mestine yo Mbah Prawira dhewe, saumpama aku arep nlesih yo mestine ora sopan lan mundak malah gawe perkara sing ora-ora. Arep tekon Yu Gemi, iyo nek wonge ngerti. Yen ora ngerti terus malah banjur tekon marang Mbah Prawira, harak malah pada wae alias sami mawon mengko dadine. Nanging yen dasare aku wong kang pengen serba tahu, yo isih meksa ana rasa penasaran ing njero atiku. Sepisan perkara kamar suwung ngarep kamarku kuwi, lan saiki malah ketambahan kuburan cilik.

OOOOOOOOOOOoOOOOOOOOOOO

Dina kuwi aku bali rada kewengen, merga ana kegiatan ing kampus. Tekan ngomah wes meh jam rolas-an. Mlebu kamar langsung gletak ing kasur, tas gawanku angger tak deleh brukk ngana wae ing sisih dipan. Arep adus isih aras-arasen, arep mengko-mengko wae karepku; senajan awak rasane pliket kabeh. Merga saking keselku, ora krasa mak sliyuttt…. Aku keturon ngana wae.
Nanging lagi oleh sakwetara olehku keturon. Mak jenggirat! Aku tangi kaya wong kaget. Saka rumangsaku kaya ana wong kang nggugah anggonku turu. Pawongan kasebut kanggo sandangan beskap, blangkone ireng wulung, praupane kereng merbawani lan nyikep keris. Aku digetak lan dipisuhi arep dipateni. Merga saka wediku, aku bengok-bengok njaluk tulung.
Aku lenger-lenger ing dhuwur dipan, karo nata ambegan kang isih munggah muduh keweden. “Alah… tujune kok mung dapur ngimpi. Iki rak merga aku kekeselen wae.” Grenengku ing batin.
Arep neruske turu maneh wes kagol. Aku banjur metu kamar arep adus wae, merga wes rak betah karo rasane awak kang pliket kabeh. Nalika ngliwati lurung pawon, mak prinding…. Githokku mengkorok kelingan kuburan cilik ing ngisor meja kompor. Apa maneh sajake lagi bar disekar, sebab gandane kembang lan menyan dulek irung. Senajan atiku rada cilik lan jantungku deg-deg-kan; meksa tak wanek-wanek wae.
“Sluman slumun slamet… aku turune nabi Adam, golongane manungsa kang luwih pinunjul tinimbang mahluk-mahluk liyane” grenengku kanggo gedek-gedekne atiku.
“Slamet… slamet… Alhamdulillah bebas saka gangguan.” Batinku nalika bubar adus.
Aku iso mesem sithik saikine, atiku wes ora keder maneh.
“Alah… deneya yo ora ana apa-apa. Tiwas aku keweden huh…” ucapku lirih karo nglirik pernah ngisor meja kompor. Mangsiya mengkana olehku mlaku ya rada tak gawe cukat, piye-piyea ing jero ati ya isih ana rasa wedi-wedi sithik.
Nalika arep mlebu ing ruang tengah, jangkahku kadeg saknalika. Jantungku kaya wes pedhot-pedhota, awakku lemes sak-kal. Arep jumangkah wes ora kuwat, arep mbengok, tangen bisa. Gur mripat kang isih mlolo nyawang pernah kamar suwung. Aku kaget kapirungan merga saiki aku nyekseni dhewe dene kamar suwung kuwi lampune katon murub, katitik saka sela-selane bolongan angin-anginan ing dhuwur lawang, ana cahya lampu kang clumorot metu. Lan sing gawe aku sangsaya wel-welan merga saka njero kamar keprungu suara tangis mingseg-mingseg.
Aku mung gadeg ngejegrek nganti sautara wektu ing lawang butulan. Swasana kang sepi lan peteng sangsaya gawe keder atiku. Aku meneng karo dremimil donga ing njero ati saengga sithik baka sithik, aku wes iso ngendalekne atiku. Ambeganku sing kregosan merga keweden campur kaget wiwit tak atur maneh. Otot balungku kang lemes wiwit ana kekuatan maneh, getihku wes ora ser-ser-an lan wiwit ana sak tlenik kuwanen ing jero atiku.
“Kowe dudu bocah jirih.” Kaya ana sing bisiki atiku. Lan kuwanenku sangsaya kandel, apa maneh bareng kelingan karo rasa penasaranku kanggo bedah misteri kamar suwung kang sak suwene iki mung dadi pitakonan ing njero atiku.
Alon-alon aku mlaku nyedaki pernah kamar suwung kuwi. Mlakuku sengaja tak gawe jingkat-jingkat, pamrihe aja nganti ana sing krungu lan jugarake anggonku arep mecahke misteri kamar suwung. Nalika wes cedak, aku banjur nyoba ngincen saka bolongan kunci. Nanging aku ora nyumurupi apa-apa ing njero kamar kasebut, kejaba mung katon dipan kang dilambari sprei putih. Sauntara kuwi suara tangis isih keprungu saka njero kamar. Aku nyoba ngliling goleki pernahe suara kasebut, nanging tetep wae aku ora bisa mrangguli sapa kang nangis sesengukan kasebut merga winatese bolongan kunci. Arep ngunggak saka dhuwur lawang, ora gaduk. Lan emane ora ana barang kang iso kanggo ancik-ancik, arep njupuk kursi samar yen mengko malah gawe glodakkan. Sidane aku mung neruske olehku ngincen saka bolongan kunci.
“Oaalah cah ayu, kok ya nganti semana olehmu tegel ninggalke aku. Banjur suk kapan olehmu arep mbalik mrene. Aku tansah ngenteni tekamu, nganti suk kapan wae. Kamar iki yo gur kowe sing iso bukak. Yo mung kowe kang nyekel kuncine. Semana uga atiku.”
Keprungu suara panelangsan saka njero kamar kasebut, diselani karo tangis mingseg-mingseg. Yen tak gatekne suara kasebut jelas yen suarane wong lanang, lan kaya-kaya kok suarane memper karo suarane mbah Prawira. Ah apa iya kuwi suarane mbah Prawira?
Aku wes ora sabar maneh pengen mbuktekne apa kang dadi wadine kamar suwung kuwi. Tanganku nyandak gagang lawang, banjur tak untir alon-alon arep tak bukak. Nalika tak rasa wes cukup anggonku nguntir, banjur lawang tak surung. Ananging durung nganti lawang mengga, ujug-ujug keprungu suara sandal diseret ing jogan lan sajake ana pawongan kang arep tumuju ing ruang tengah iki. Gageyan aku ngeculne gagang lawang lan banjur setengah mlayu mlebu menyang kamarku, banjur ethok-ethok turu karo isih masang kuping, nganti mak less…. Aku keturon ngana wae.
Tangi-tangi wes jam pitu, srengengene wis nangkring ing sela-selane pang wit jambu klutuk. Manuk prenjak pating cruwet, ngoceh rame banget ing kebonan. Aku gage-gage menyat menyang jeding, adus gebyar-gebyur terus siap-siap mangkat menyang kampus. Dina iki isih ana kegiatan kang kudu tak tekani, jadwale jam wolu esuk. Bubar dandan sakpantese, banjur metu kamar siap mangkat. Ora lali ngunci kamar.
“Kerinan nak?” Mbah Prawira ujug-ujug wes gadeg ing buriku lan nyapa aku. Kamangka rumangsaku mau ora ana sapa-sapa ing ruang tengah iki. Aku mangsuli karo rada kaget.
“Inggih mbah…”
“Lha iya to nak, nek tilem niku ampun dalu-dalu.”
Aku mung mesem, dituturi ngana kuwi karo Mbah Prawira.
“Dalem bidal rumiyin Mbah.”
Mbah Prawira manthuk sinambi ngulatke aku karo penyawang sing rada aneh. Aku banjur mlaku mecaki lurung tumuju ing dalan gede. Atiku isih gojag-gajeg mikirke panyawange Mbah Prawira iki mau.
‘Apa Mbah Prawira ngonangi olehku nginjen kamar suwung mau bengi apa piye ya? Kok panyawange sajak ngemu teges sing kepiye, sing gawe goreh atiku’ bantinku.
Merga ngalamun lan kagawa ati goreh, aku nganti kurang prayitna ngulate dalan ngarepan. Nalika arep menggok metu saka lurung, aku ora ngawaske yen saka ngarepan ana pawongan numpak sepeda onta kang uga arep menggok mlebu lurung.
“Eeee……. Eee..” grubyak! pawongan lan sepedahe nyungsep ing pager hidup merga ngendani aku. Aku kang rumangsa salah, banjur age-age nututi sakperlu aweh pitulungan.
“Wahh… ngaputen nggih Mbah.” Aku njaluk ngapura marang pawongan sepuh kang mengkurep semampir pager lan kebrukan sepedah.Aku nyandak sepedahe terus tak jagangake, banjur arep genti nulungi wong sing dhuwe sepeda. Nanging saiba kagetku, jebul pawongan kasebut Mbah Prawira. Jangkahku kandeg lan domblong nyawang Mbah Prawira kang pringas-pringis karo nyekeli boyoke.
“Lha terus sing tak pamiti mau sapa?

SYAIR KEKASIH

Kekasih…
Laksana cermin dalam resonansi jiwa
Yang menggetarkan palung hati hingga keraga
Dan menghantarkan kehangatan bara
dari bekunya hati sang kelana

kekasih…
kesetiaan agung pada dera kerinduan
laksana pantai menanti ombak dalam pelukan
yang teredam pada dalamnya kebisuan

kekasih…
seperti bunga yang menjaga tingginya kuncup
pucuk-pucuk kasihmu tak juga meredup
mencumbui lautan sukma yang kuyup
dalam serenade desiran angin sayup

kekasih…
karang-karang kesabaran yang tumbuh di lubuk kalbu
meleburkan kebimbangan sang peragu
saat luka kuburkan semburat hasrat perindu
dari kelam kelabu cerita lalu

kekasih…
butiran hujan yang jatuh selayak mutiara
terbungkus rapi dalam kado asa
untuk kau buka jika saatnya tiba
andai mampu kusibak jendela masa

kekasih…
sanjung puji dalam serambi janji
terucap lugas pada paras sejati
demi ikrar atas cinta suci
rekatkan dua hati yang terpatri
Next Prev