Tampilkan postingan dengan label Materi Bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Bahasa indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Kata Baku dan Kata Tidak Baku


Dalam Kehidupan Sehari – hari tanpa kita sadari,kita terkadang menggunakan kata yang tidak sesuai ejaan dalam Bahasa Indonesia.Tetapi Kata Baku sangat penting untuk dikuasai dan digunakan ketika membuat suatu karya tulis ilmiah.

Apa sih pengertian Kata Baku dan Kata Tidak Baku ? ? ? Kata Baku adalah kata yang standar yang benar menurut dalam pembahasan Bahasa Indonesia, sedangkan Kata Tidak Baku adalah Kata yang salah atau tidak benar menurut dalam pembahasan Bahasa Indonesia.

Contoh 100 Kata Baku dan Kata Tidak Baku :

1. aktif : aktip
2. analisis : analisa
3. asas : azas
4. atlet : atlit
5. asasi : azasi
6. akuarium : aquarium
7. apotek : apotik
8. azan : adzan
9. aki : accu
10. adab : adap
11. bus : bis
12. biosfer : biosfir
13. cabai : cabe
14. capai : capek
15. cedera : cidera
16. cenderamata : cinderamata
17. dalam : dalem
18. debit : debet
19. deputi : deputy
20. detail : detil
21. definisi : difinisi
22. diagnosis : diagnosa
23. devaluasi : defaluasi
24. durian : duren
25. doa : do’a
26. ekstrem : ekstrim
27. elite : elit
28. ekuivalen : ekwivalen
29. familer : familiar
30. frustrasi : frustasi
31. frekuensi : frekwensi
32. genting : genteng
33. glukose : glukosa
34. gua : goa
35. guncang : goncang
36. grup : group
37. gubuk : gubug
38. hadis : hadist
39. hakikat : hakekat
40. hektare : hektar
41. heterogen : hetrogen
42. hipotesis : hipotesa
43. hipotek : hipotik
44. ideologi : idiologi
45. ijazah : ijasah
46. ikhlas : ihlas
47. imaginasi : imajinasi
48. istri : isteri
49. intelijen : inteligen
50. interupsi : intrupsi
51. insaf : insyaf
52. introspeksi : interospeksi
53. interogasi: interograsi
54. influenza : influensa
55. jadwal : jadual
56. jenazah : jenasah
57. kaidah : kaedah
58. kalau : kalo
59. kanguru : kangguru
60. karier : karir
61. kaus : kaos
62. kongres : konggres
63. kuantitas : kwantitas
64. kualitas : kwalitas
65. kuitansi : kwitansi
66. kreativitas : kreatifitas
67. konferensi : konperesi
68. konkret : kongkrit
69. karisma : kharisma
70. kualifikasi : kwalifikasi
71. labah – labah : laba – laba
72. lurus : lempeng
73. lesung pipi : lesung pipit
74. linear : linier
75. lubang : lobang
76. manajemen : managemen
77. mangkuk : mangkok
78. mantap : mantep
79. masal : massal
80. manajer : menejer
81. masjid : mesjid
82. merek : merk
83. meterai :meterei
84. mencuci : menyuci
85. masalah : masaalah
86. memesona : mempesona
87. metode : metoda
88. microbe : mikroba
89. miliar : milyar
90. monarki : monarkhi
91. misi : missi
92. moral : moril
93. mulia : milya
94. museum :musium
95. napas : nafas
96. nasihat : nasehat
97. nomor : nomer
98. objek : obyek
99. omzet : omset

100. peduli : perduli

Selasa, 05 Juni 2012

Jenis Dongeng


Ada 3 Jenis Dongeng antara lain: Dongeng binatang atau fabel, Dongen Biasa dan Dongeng Lelucon:

1).Dongeng Binatang/fabel
Dongeng Binatang atau Fabel merupakan dongeng yang mengandung pendidikan tentang perbuatan baik dan buruk binatang. Dalam fabel, tokoh binatang berperilaku seperti manusia. Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekerti manusia. Dongeng Kancil dan Buaya, dan Kucing Bersepatu Bot merupakan contoh dongeng binatang. Biasanya, mereka digambarkan sebagai hewan cerdik, licik, dan jenaka.

2).Dongeng biasa
Dongeng biasa merupakan cerita tentang tokoh suka dan duka. Contohnya adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih dan Jaka Tarub.

3).Dongeng lelucon
Dongeng lelucon berisi cerita lucu tetang tokoh tertentu. Contoh dongeng lelucon yaitu Si Kabayan dari Jawa Barat, Lebai Malang, Pak Pandir, Pak Belalang, Lucai dari Melayu, dan Pan Balangtamak dari Bali.

Minggu, 06 Mei 2012

Kiblat dalam Sastra Indonesia


Ada sebuah pertanyaan besar yang sampai sekarang belum ada jawaban yang memuaskan. Benarkah sastra Indonesia
lahir pada 1920? Tidak sedikit pakar sastra Indonesia yang masih berpendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai
pada 1920 dengan sejumlah argumentasi yang sekilas tampak mantap. Tanpa mengulang kembali apa yang telah
disampaikan A. Teeuw, Ajip Rosidi, Yudiono K.S., Maman S. Mahayana, Bakri Siregar, bahkan Umar Junus dan
Slametmoeljana, saya mencoba melihat upaya yang dilakukan para pakar sastra lainnya dalam merekonstruksi sejarah
sastra Indonesia di era reformasi ini.

Dalam artikel yang dibacakan di 11th European Colloquium on Indonesian and Malay Studies yang diselenggarakan
Lomonosov Moscow State University pada 1999, pengajar sastra Universitas Indonesia (UI), Ibnu Wahyudi, mengatakan,
awal keberadaan sastra Indonesia modern dimulai pada 1870-an, yang ditandai dengan terbitnya puisi “Sair Kedatangan
Sri Maharaja Siam di Betawi” (anonim) yang sekarang diterbitkan kembali dalam Kesastraan Melayu Tionghoa dan
Kebangsaan Indonesia (Jakarta: KPG, 2000).

Pada 2002, redaksi majalah sastra Horison yang dipimpin Taufiq Ismail menerbitkan buku Horison Sastra Indonesia
(empat jilid) yang di dalamnya menyebutkan awal mula penulisan puisi Indonesia dipelopori Hamzah Fansuri sekitar abad
ke-17. Namun, Taufiq Ismail masih menyebut Hamzah Fansuri sebagai pionir sastra daerah, dalam hal ini Aceh. Ia tidak
dengan tegas menyatakan bahwa Hamzah Fansuri adalah sastrawan Indonesia.

Dari kedua hal di atas, setidaknya ada keinginan pada Ibnu Wahyudi untuk meluruskan sejarah sastra Indonesia yang
sekarang diajarkan di sekolah-sekolah. Pelurusan sejarah ini penting karena berkaitan langsung dengan kesadaran kita
mengenai bangsa dan negara Indonesia.

Sejak Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menyarankan untuk memutuskan sejarah kebudayaan prae-Indonesia (masa
sebelum akhir abad ke-19) dengan kebudayaan Indonesia (awal abad ke-20 hingga kini), serta merta menghasilkan mata
rantai sejarah yang terputus. Seolah-olah kebudayaan Indonesia baru lahir mulai 1900 sekaligus menafikan perjalanan
sejarah bangsa yang telah berjalan ribuan tahun.

Lompatan besar yang dilakukan STA itu sejalan dengan politik etis yang tengah dilakukan kolonial Belanda. Tapi, hal itu
sekaligus menjadi kabut yang mengaburkan jatidiri bangsa Indonesia. Pandangan Sanusi Pane yang senafas dengan
Poerbatjaraka dalam menanggapi STA sebenarnya memperlihatkan pandangan yang khas Indonesia. Dalam arti, mereka
tidak silau dengan pengaruh Barat yang masuk ke Indonesia dan tidak mabuk dengan kebudayaan bangsanya sendiri.

Poerbatjaraka mengingatkan bahwa sejarah hari ini adalah kelanjutan dari sejarah masa lalu dan tidak terpotong begitu
saja. Ia pun menegaskan bahwa sejatinya yang harus dilakukan adalah menyeleksi kebudayaan Indonesia yang purba
dan pengaruh kebudayaan Barat untuk diformulakan menjadi kebudayaan Indonesia baru. Dalam bahasa Sanusi Pane,
sebaiknya kebudayaan Indonesia mengawinkan Faust (Barat) dengan Arjuna (Timur).

Jika kita masih berpegang pada pendapat bahwa kelahiran sastra Indonesia dimulai pada 1920, kita masih setia pada
sejarah yang terpotong itu. Kalau merujuk politik etis kolonial Belanda yang membentuk Commissie voor de Indlandsche
School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) pada 1908, dan selanjutnya pada
1917 mendirikan Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang diberi nama Balai Pustaka, kelahiran sastra
Indonesia—dengan demikian—merupakan produk politik etis kolonial Belanda itu. Padahal, pengaruh Barat semacam itu
hanyalah babakan kecil dari pengaruh luar yang masuk ke Indonesia. Dengan kata lain, keterpengaruhan itu hanya bagian
kecil dari keindonesiaan kita.

Hasil penelitian Ibnu Wahyudi di atas memperlihatkan bahwa ia sudah terlepas dari kungkungan pemikiran yang dibentuk
Belanda. Dengan menempatkan karya-karya sastrawan Indonesia dari peranakan Cina dan peranakan Eropa sebagai titik
awal kelahiran sastra Indonesia, sesungguhnya ia telah menghadirkan wacana baru bahwa karya sastra yang tidak
melalui sensor Balai Pustaka, yang tidak menggunakan bahasa Melayu tinggi, yang disebut sebagai bacaan liar, yang
ceritanya berdasarkan peristiwa “yang sungguh-sungguh pernah terjadi”, adalah juga termasuk dalam khasanah sastra
Indonesia.

Penelusuran Pramoedya Ananta Toer terhadap karya sastra Indonesia tempo dulu juga memperlihatkan hal serupa.
Sastrawan-sastrawan yang sebagian besar berlatar belakang wartawan dari peranakan Eropa, Cina, dan asli Minahasa,
seperti F. Wiggers, G. Francis, H. Kommer, Tio Ie Soei, dan F.D.J. Pangemanann, merupakan anasir penting dalam sastra
Indonesia yang berhasil diselamatkan.

Terbitnya buku Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer pada 1982 (dan direvisi pada
2003) ini memiliki dua arti penting. Pertama, ada semacam pengakuan terhadap eksistensi sastra Indonesia yang
menggunakan bahasa Melayu pasar. Pram pun telah berjasa karena telah menjalin kembali mata rantai sejarah sastra
(dan juga kebudayaan) yang terputus akibat pemikiran STA.

Kedua, hasil penelusuran semacam itu sekaligus memperlihatkan sebuah babak yang unik dalam sejarah sastra
Indonesia bahwa politik etis kolonial Belanda yang diskriminatif, terlebih di dunia pendidikan, menghasilkan produk yang
tidak adil bagi bangsa pribumi. Akibatnya, hanya mereka yang boleh mengecap pendidikan “Barat” yang memiliki
kemampuan berproduksi, yakni kaum peranakan dan golongan ningrat.

Karena itu, hanya kaum terpelajar seperti F.D.J. Pangemanann, sastrawan Minahasa yang juga pemimpin redaksi koran
berbahasa Melayu, Djawa Tengah (1913-1938) dan bangsawan Jawa Noto Soeroto yang menghasilkan karya sastra pada
masa maraknya sastra berbahasa Melayu pasar. Noto Soeroto sendiri menulis dalam bahasa Belanda, di antaranya
Melatiknoppen (‘Kuntum-kuntum Melati’) pada 1915 dan Wayang-liederan (‘Dendang Wayang’) pada 1931, yang menurut
Dick Hartoko berisi potret diri Noto Soeroto yang hidup dalam kemiskinan dan teralienasi dari masyarakatnya karena
memilih sikap kooperatif dengan kolonial Belanda saat itu.

Sementara itu, karya Taufiq Ismail dkk., Horison Sastra Indonesia, memiliki arti sekaligus pesan penting bagi pembacanya
untuk tidak melupakan karya sastra Indonesia “klasik” yang telah ditulis oleh pujangga-pujangga zaman dulu, seperti
Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, Raja Ali Haji, Chik Pantee Kulu, Haji Hasan Mustapa, Tan Teng Kie, bahkan karya besar
dari Bugis, I La Galigo (anonim, disusun Arung Pancana Toa).

Apa yang dilakukan Ibnu Wahyudi dan Taufiq Ismail dkk. sudah memberi sumbangan yang sangat berarti bagi pelurusan
sejarah sastra Indonesia. Hanya saja, perlu dilakukan upaya yang lebih radikal untuk kemajuan sastra Indonesia itu
sendiri.

Seperti yang kita ketahui, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1945, manusia yang mendiami
wilayah Indonesia sudah memiliki kebudayaan masing-masing. Salah satu anasir badaya yang mereka hasilkan adalah
karya sastra yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah).

Dalam Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang karya P.J. Zoetmulder (1983), karya sastra tertua yang
menggunakan bahasa Jawa kuno adalah Arjunawiwaha (‘Perkawinan Arjuna’) karya Empu Kanwa yang terbit sekitar 1028-
1035 di masa kerajaan Airlangga. Sementara dalam buku Yang Indah, Berfaedah dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu
dalam Abad 7--19 karya Vladimir I. Braginsky (1998) disebutkan bahwa pada Zaman Pertengahan, sastrawan-sastrawan
Melayu telah menghasilkan karya sastra yang mendunia.

Dengan tegas Braginsky menyatakan, “Bagi dunia Timur, dan dunia Melayu tidak terkecuali, yang tradisional dan yang
modern saling berjalinan dengan erat dan kuat. Sehingga tanpa mengenal yang pertama, orang tidak mungkin
menghayati kedalaman makna yang kedua. Ini berarti, bahwa hanya dengan demikianlah orang bisa menyelami sebab-
musabab proses-proses yang kini tengah berlangsung di Indonesia… Di dunia Timur, bidang sastra ini juga menyimpan
hakikat dari tradisi-tradisi yang hidup, dan memaparkannya pada generasi-generasi yang mendatang dengan lebih baik,
dibandingkan dengan bidang-bidang kebudayaan apa pun lainnya.”

Datangnya pengaruh Hindu/Buddha, Islam, kemudian pengaruh Barat telah memberi warna baru yang memperkaya dan
mematangkan kebudayaan Indonesia, termasuk di dalamnya khazanah sastra Indonesia. Sebagaimana yang terjadi di
ranah agama, di ranah sastra pun terjadi “sinkretisme” yang dilakukan sastrawan setempat dengan pengaruh luar. Boleh
saja Rudyard Kipling mengatakan East is east and west is west and the twin shall never meet. Tapi, bagi manusia Jawa,
memadukan dua hal yang bertentangan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Hal ini bisa terlihat dalam kakawin
Sutasoma karya Empu Tantular, misalnya.

Dari uraian singkat di atas, saya ingin menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada dua “kiblat” dalam sastra Indonesia,
yakni sastra Indonesia yang masih memperlihatkan pengaruh Hindu/Buddha yang sangat kuat, yang berpusat di Jawa dan
sastra Indonesia yang masih memperlihatkan pengaruh Islam yang sangat kuat, yang berpusat di Sumatera. Kedua
“kiblat” itu bisa menjadi runutan dan rujukan berkaitan dengan penentuan awal kelahiran sastra Indonesia. Kesimpulan ini
diperkuat oleh hasil penelitian E.U. Kratz pada 1983 yang memperlihatkan bahwa sastrawan yang berasal dari Jawa
(52,8%) dan Sumatera (30,3%) yang kini berperan besar dalam menghidupkan denyut nadi sastra Indonesia.

TIPS MEMBUAT KARYA TULIS ESAI


Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.
Struktur Sebuah Esai
Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:
1. Paragraf pertama
Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.
2. Paragraf kedua sampai kelima
Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.
3. Paragraf kelima (terakhir)
Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis untuk meyakinkan pembaca
Langkah-langkah membuat Esai
1. Tentukan topik
2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda
3. Tuliskan tesis anda dalam kalimat yang singkat dan jelas
4. Tuliskan tubuh tesis anda:
5. Mulailah dengan poin-poin penting
6. kemudian buatlah beberapa sub topik
7. Kembangkan sub topik yang telah anda buat
8. Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)
9. Tuliskan kesimpulan
10. Berikan sentuhan terakhir

Sastra Dan Studi Marxsis


teori sastra menurut marxis yang sebenarnya adalah sebuah makalah/tinjauan ataupun pengajaran dari sebuah universitas, namun saya menemukanya dibagikan secara gratis dan yang jelas Universitas ini bisa dipertanggungjawabkan keabsahanya tentang ilmu sastra
Pengertian Teori Sastra
Secara umum, yang dimaksudkan dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.
Teori berisi konsep atau uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari sudut pandang tertentu.
Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya atau dibantah kesahihannya
pada objek atau gejala yang diamati tersebut.

Menurut Rene Wellek dan Austin (1993: 37-46) dalam wilayah sastra perlu terlebih dahulu ditarik perbedaan antara sastra di satu pihak dengan teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra di pihak lain. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif.
Sedangkan teori sastra, kritik sastra, dan sejarah sastra merupakan cabang ilmu sastra. Teori sastra adalah studi prinsip, kategori, kriteria yang dapat diacu dan dijadikan titik tolak dalam telaah di bidang sastra. Sedangkan studi terhadap karya konkret disebut kritik sastra dan sejarah sastra. Ketiganya berkaitan erat
sekali. Tidak mungkin kita menyusun teori sastra tanpa kritik sastra dan teori sastra, kritik sastra tanpa teori sastra dan sejarah sastra (Wellek & Warren, 1993: 39).

Ruang Lingkup
Ruang lingkup sastra (literature) adalah kreativitas penciptaan, sedangkan ruang lingkup studi sastra (literary studies) adalah ilmu dengan sastra sebagai objeknya. Sastra, dengan demikian berfokus pada kreativitas, sedangkan studi sastra berfokus pada ilmu.
Pertanggungjawaban studi sastra adalah logika ilmiah. Karena ruang lingkup sastra adalah kreativitas penciptaan, maka karya sastra (puisi, drama, novel, cerpen) adalah sastra.
Namun, karena kritik sastra juga merupakan kreativitas dalam menanggapi karya sastra dan masalah kreativitas penciptaan lain dalam sastra, maka kritik sastra dalam bentuk esai tidak lain adalah sastra juga. Kritik sastra yang benar bukanlah kritik sastra yang asal-asalan, tetapi berlandaskan pada logika yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selasa, 24 April 2012

FUNGSI DAN KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA


Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional menurut Sugono (2009:3) pada “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25-28 Februari 1975 antara lain: Kedudukan Bahasa Indoensia sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai: 1). Lambang Kebanggaan Nasional 2). Lambang identitas nasional, 3). Alat Pemersatu Berbagai-bagai Masyarakat yang Berbeda-beda Latar Belakang Sosial Budaya dan Bahasanya, 4). Alat Perhubungan Antarbudaya Antardaerah.

  1. Lambang Kebanggaan Nasional,

Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia ‘memancarkan’ nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa Indonesia. Dengan keluhuran nilai yang dicerminkan bangsa Indonesia, yang menggambarkan ciri khas dan karakter bangsa Indonesia. Oleh karena itu perlunya dibina rasa kebanggaan terhadap pemakaian bahasa Indonesia dan mempertahankan bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggan nasional.

  1. Lambang identitas nasional,

Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia merupakan ‘lambang’ bangsa Indonesia. Dengan bahasa Indonesia dapat dipahami karakter sifat dan menjadi ciri khas tersendiri bagi bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa Indonesia.

3. Alat Pemersatu Berbagai-bagai Masyarakat yang Berbeda-beda Latar Belakang Sosial Budaya dan Bahasanya,

Dengan fungsi yang ketiga memungkinkan masyarakat Indonesia yang beragam latar belakang sosial budaya dan berbeda-beda bahasanya dapat menyatu dan bersatu dalam kebangsaan, cita-cita, dan rasa nasib yang sama. Tidak adanya perbedaan atas berbedanya suku, budaya maupun adat istiadat. Dengan bermacam-macam bahasa daerah yang digunakan disetiap daerah tertentu setiap masyarakat akan tetap merasa satu karena adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

  1. Alat Perhubungan Antarbudaya Antardaerah.

Dengan fungsi keempat, bahasa Indonesia sering kita rasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa daerah yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Oleh karena itu peran bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung guna terjadinya interaksi antara satu daerah dengan daerah lain.

3. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara/Resmi

Bahasa Indonesia memiliki peran dan fungsi dalam berkomunikasi antar satu daerah tertentu, namun kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara/. Bahasa resmi memiliki peran tersendiri. Hal ini berdasarkan Muslich (2007), dalam “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia befungsi sebagai: 1). bahasa resmi kenegaraan, 2). bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, 3). bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, 4). bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

(1) bahasa resmi kenegaraan,

Untuk hasil keputusan-keputusan, dokumen-dokumen, dan surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga-lembaganya dituliskan di dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato atas nama pemerintah atau dalam rangka menuanaikan tugas pemerintahan diucapkan dan dituliskan dalam bahasa Indonesia

(2) bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,

Sebagai bahasa resmi, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.

(3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah,

Sebagai fungsinya di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, bahasa Indonesia dipakai dalam hubungan antarbadan pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

(4) bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknolologi (iptek). Penggunaan bahasa Indonesia baik melalui buku-buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah, hendaknya menggunakan bahasa Indonesia.

Hal Ihwal Pengajaran Sastra


Pengajaran merupakan interaksi belajar dan mengajar. Pengajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara pengajar dan siswa. Diantara keduanya terdapat hubungan atau komunikasi interaksi. Pengajaran merupakan suatu pola yang di dalamnya tersusun suatu prosedur yang direncanakan (Ampera, 2010:6). Selain itu, pada dasarnya sastra merupakan produk budaya, kreasi pengarang yang hidup dan terkait dengan tata kehidupan masyarakat. Sastra memberikan wujud dan menggambarkan kehidupan dan realitas sosial yang ada di masyarakat.

Pengajaran sastra pada dasarnya memiliki peranan dalam peningkatan pemahaman siswa. Apabila karya-karya sastra tidak memiliki manfaat, dalam menafsirkan masalah-masalah dalam dunia nyata, maka karya sastra tidak akan bernilai bagi pembacanya. Pada dasarnya pengajaran sastra mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka dapat dipandang pengajaran sastra menduduki tempat yang yang selayaknya. Jika pengajaran sastra dilakukan secara tepat maka pengajaran sastra dapat memberikan sumbangan yang besar untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang cukup sulit untuk dipecahkan di dalam masyarakat (Rahmanto, 1996:15). Melalui hal tersebut, sastra memberikan pengaruh terhadap pembacanya. Sastra membentuk pola pikiran dan respon pembaca terhadap apa yang dibacanya dengaan aktivitas kesehariaanya yang saling berkaitan.

Pengajaran bahasa dan sastra pada umumnya mengalami kendala dan hambatan. Khususnya pada pengajaran sastra yang terkadang dianggap kurang bermanfaat. Sikap yang kurang apresiatif muncul dari siswa dan guru, sehingga pengajaran sastra terabaikan. Kemendiknas (2011:59) menyatakan penyajian pengajaran sastra hanya sekedar memenuhi tuntutan kurikulm, kering, kurang hidup, dan cenderung kurang mendapat tempat dihati siswa. Pengajaran sastra diberbagai jenjang pendidikan selama ini dianggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi para guru yang pengetahuan dan apresiasi (dan budayanya) rendah. Hakikat dari tujuan pengajaran sastra yaitu untuk menumbuhkan keterampilan, rasa cinta dan penghargaan para siswa terhadap bahasa dan sastra Indonesia sebagai budaya warisan leluhur. Pada pengajarannya pula sastra memiliki problematika yang mempengaruhi minat dan keinginan siswa untuk mengikuti pengajaran dengan baik.

  1. 2. Manfaat Pengajaran Sastra

Sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran, pandangan dan gagasan dari seseorang. Sastra diciptakan oleh pengarang berdasarkan pola pikir dan ide kreatif yang dibangun secara mandiri Pemikiran, gagasan dan pola pikir dari pengarang pada dasarnya bersumber dari keadaan-keadaan sekitar lingkup pengarang. Oleh karena itu, di dalam karya sastra terdapat tafsiran-tafsiran masalah dunia nyata. Sastra memiliki hubungan dalam kehidupan dunia nyata. Dengan demikian, pada dasarnya karya sastra memiliki peran dan kedudukan yang penting. Senada dengan hal itu, menurut Rahmanto (1996:16—25) manfaat pengajaran sastra dalam dunia pendidikan adalah sebagai berikut:

1) Membantu keterampilan berbahasa

Terdapat empat keterampilan berbahasa yaitu, membaca, menyimak, menulis dan berbicara. Pada proses pembelajaran tersebut, siswa dapat meningkatkan kemampuannya melalui kegitatan bersastra. Pengajaran sastra berperan meningkatkan keterampilan membaca siswa, misalnya saat siswa membaca puisi atau membaca prosa/cerita. Melatih keterampilan berbicara saat siswa ikut berperan dalam suatu drama. Selain itu, dapat melatih keterampilan menyimak saat guru membacakan suatu karya sastra, atau saat mendengarkan karya sastra melalui rekaman. Pengajaran sastra juga membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan menulis dengan menulis karya-karya sastra.

2) Meningkatkan pengetahuan budaya

Dalam sistem pendidikan seharusnya disertai usaha untuk menanamkan wawasan pemahaman budaya bagi peserta didiknya. Pemahaman budaya berperan untuk menumbuhkan rasa bangga, rasa percaya diri dan rasa ikut memiliki. Beberapa pengetahuan khusus mengenai budaya sendiri, pada dasarnya menjadi ciri khas. Hal ini membantu menggenalkan karakter dan identitas budaya yang ada. Pengajaran sastra jika dilaksanakan dengan bijaksana, dapat mengantar siswa berkenalan dengan budaya, karakter suatu hal tertentu.

3) Mengembangkan cipta dan rasa

Siswa merupakan individu yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Siswa pada dasarnya memiliki kecakapan dan siswa pula menunjukkan kekurangannya. Secara umum kita memandang siswa pada satu kesatuan yang kompleks, dengan memberikan perlakuaan yang sama. Namun, pada dasarnya siswa memiliki kecakapan dan kekurangan tersendiri. Oleh karena itu, siswa butuh diarahkan agar siswa menyadari potensinya. Dalam hal pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indera; bersifat penalaran; yang bersifat objektif; dan bersifat sosial; serta dapat ditambah lagi dengan sifat religius. Pengajaran sastra yang dilakukan secara benar akan dapat mengembangkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Secara rinci dijelaskan berdasarkan uraian sebagai berikut:

a)Indera

Pengajaran sastra dapat digunakan untuk memperluas pengungkapan apa yang diterima oleh panca indera seperti indera penglihatan, indera pendengaran, indera pengecapan dan indera peraba. Seorang pengarang pada dasarnya seorang yang memiliki berbudi halus, peka dan mampu menyampaikan apa yang mereka hayati kepada pembaca. Dengan mengikuti tafsiran serta makna-makna yang mereka ungkapkan siswa akan diantar untuk membedakan hal satu dengan hal lain.

b) Penalaran

Berpikir logis banyak ditentukan oleh hal-hal seperti ketepatan pengertian, ketetapan interprestasi kebahasaan, klasifikasi dan pengumpulan data, penentuan berbagai pilihan, serta formulasi rangkaian tindakan yang tepat. Pengajaran sastra jika diarahkan dengan tepat akan membantu siswa latihan memecahkan masalah-masalah berfikir logis semacam itu. Bahkan di samping sarat dengan kecakapan berpikir logis itu, pengajaran sastra juga meliputi kecakapan-kecakapan pilihan seperti dugaan, kebiasaan, tradisi, dorongan dan sebagainya. Tentu saja, siswa tidak bisa langsung diharapkan untuk melakukan hal tersebut. Namun, sejak awal para guru sastra hendaknya melatih siswa untuk memahami fakta-fakta, membedakan mana yang pasti dan mana yang dugaan, memberikan bukti tentang suatu pendapat, serta mengenal argumentasi yang tepat.

c)Perasaan

Kepekaan rasa dan emosi sering dikaitkan erat dengan pengajaran sastra, dan hal ini mungkin patut untuk dipertahankan. Pengertian perasaan ini memang agak kabur dan bahkan mereka yang yakin akan adanya perasaan itu tetap tidak selalu dapat mengerti dengan jelas apa maksudnya. Sehubungan dengan perasaan, sastra mungkin dapat menghadirkan problem atau situasi yang merangsang tanggapan perasaan atau tanggapan emonsional. Situasi dan problem itu diungkapkan oleh pengarang dengan cara-cara yang memungkinkan kita tergerak untuk menjelajahi dan mengembangkan perasaan kita sesuai dengan kodrat manusia.

d) Kesadaran Sosial

Sastra dapat digunakan untuk menumbuhkan kesadaran pemahaman terhadap orang lain. Para pengarang modern telah banyak berusaha merangsang minat dan menumbuhkan rasa simpati kita terhadap masalah-masalah yang dihadapi orang-orang tertindas, gagal, kalah, putus asa. Secara tidak langsung sastra memberikan kesadaran dengan membawa pesan untuk dipahami oleh pembacanya.

e)Religius

Banyak orang yang menyatakan dirinya sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk hal-hal yang berhubungan dengan rasa religius ini. Akan tetapi banyak pula yang beranggapan bahwa mereka hanya dapat memahami dan menjalani hidup sehari-hari dengan memdasarkan pemikiran dan tindakan merka pada sistem kepercayaan yang mereka yakini.

4) Menunjang pembentukan watak

Dalam nilai pengajaran sastra terdapat dua tuntutan yang dapat diungkapkan sehubungan dengan pembentukkan watak. Pertama, pengajaran sastra hendaknya mampu membina perasaan yang lebih tajam. Dibanding pelajaran-pelajaran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengenal rangkaian kemungkinan hidup manusia seperti; kebahagian, kebebasan, kesetian, kebanggaan diri sampai kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian dan kematian. Seseorang yang mendalami sastra biasanya mempunyai perasaan yang lebih peka untuk menunjuk hal yang lebih bernilai dan tak bernilai. Selain itu, tuntunan yang kedua yaitu, dalam pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa yang antara lain meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian dan penciptaan. Sastra seperti yang kita ketahui, sanggup memuat berbagai medan pengalaman yang sangat luas.

Pengajaran sastra memiliki manfaat bagi siswa. Selain manfaat yang dikemukakan di atas sastra memiliki fungsi dalam pembentukan kepribadiaan. Bagaimana peran sastra pada karakter siswa dan penanaman nilai-nilai agama. Di dalam Kemendiknas (2011: 15—22) mengemukakan fungsi dalam membentuk kepribadian. Hal tersebut dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

a) Sastra Sebagai Pembentuk Karakter Anak

Sastra anak adalah citraan atau metafora kehidupan yang disampaikan kepada anak-anak yang melibatkan aspek emosi, perasaan, pikiran, saraf sensori, maupun pengalaman moral dan dieskspresikan dalam bentuk-bentuk kebahassaan yang dapat dijangkau dan dipahami oleh anak-anak. Sastra dinilai dapat membentuk karakter denan efektif karena nilai-nilai dan moral yang terdapat dalam karya sastra tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui metafora-metafora sehingga menjadi menyenangkan dan tidak menggurui. Nilai-nilai yang terkandung dapat diresepsi oleh anak dan merekonstruksi sikap dan kepribadian mereka.

b) Sastra Sebagai Strategi Penanaman Nilai-Nilai Agama

Seorang pengarang tidak dapat terlepas dari nilai-nilai dan norma-norma yang bersumber dari ajaran agama yang tampak dalam kehidupan. Pandangan itu erat dengan proses penciptaan karya sastra, bahwa ia tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya. Sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Sastra yang bercorak pada nilai-nilai agama merupakan pengungkapan jiwa dan sarana untuk melakukan ibadah pada pencipta. Intinya. Karya sastra seharusnya memberikan hikmah. Hikmah karya sastra yang baik adalah bisa membuat orang membacanya tercerahkan. Hikmah itu dapat berupa nilai dan kearifan.

c) Sastra Sebagai Pembinaan dari Krisis Moral dan Krisis Keteladanan

Arah moderenisasi memberikan banyak perubahan bagi masyarakat. Perubahan yang justru mengarah pada krisis moral dan akhlak. Persoalan lainnya pula terletak pada krisis keteladanan. Krisis moral tersebut bisa diatasi dengan pembinaan watak. Dalam lingkup sekolah, misalnya, pembinaan watak diterapkan pada pengajaran sastra. Artinya pengajaran sastra berdimensi moral. Pengajaran sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral seperti kejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun dan sebagainya banyak ditemukan di dalam karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel maupun drama. Bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, sehingga mampu mengatasi krisis moral dan karya sastra sebagai objek keteladanan yang baik.

  1. 3. Permasalahan Pengajaran Sastra Di Sekolah

Pengajaran sastra mencakup tiga genre, yaitu prosa, fiksi, puisi dan drama. Dalam pengaplikasiaanya dengan dengan kegiatan menyimak dan membaca sebagai kegiatan aktivitas reseptif siswa. Disintesiskan juga dengan kegiatan berbicara dan menulis bagi siswa, yang merupakan aktivitas produktif mereka. Pada pengajaranya terdapat permasalahan yang menghambat proses pembelajaran. Berikut Kemendiknas (2011: 59—68) dikemukakan permasalahan dalam pengajaran sastra dan bagaimanakah seharusnya peran guru sastra untuk membina pengajaran sastra, yaitu sebagai berikut:

a) Problematika Pengajaran Sastra di Indonesia

Problematika pengajaran sastra di sekolah dikaitkan pada sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah kurang menumbuhkembangkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Sebenarnya guru dapat mengusahakan karya sastra yang dimuat di media massa dalam bentuk buku sastra, melalui media elektronik yakni internet dan radio. Beberapa hal lain pula adanya anggapan gagalnya pengajaran sastra di sekolah lebih banyak terjadi akibat kesalahan guru di sekolah yang telah mengingkari hakikat yang melandasi lahirnya pengajaran sastra itu.

Sistem pendidikan di Indonesia acapkali memaksa sekolah sebagai penyelenggara pendidikan dan guru sebagai ujung tombak mengingkari hakikat pendidikan. Target perolehan nilai tertentu harus dicapai dengan standar penilaian ujian nasional, memicu pengingkaran tujuan pendidikan yang sebenarnya sehingga tidak urung memaksa guru bahasa menomorduakan sastra. Faktor rendahnya apresiasi dan minat baca rata-rata siswa dan lulusan SMA memiliki pengaruh terhadap karya sastra. Pengetahuan sastra yang kurang menjadi faktor lain, hal ini sangat tidak setara jika dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang dunia hiburan atau selebriti.

Permasalahan lain, kurikulum pendidikan yang saat ini digunakan tidak pernah memberikan ruang gerak pada pembelajaran sastra. Orientasi pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan masih melenceng jauh dari hakikat dan tujuan itu sendiri. Pada kenyataan guru pun masih dihadapkan dengan seperangkat silabus dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dipatenkan dan menghambat kreativitas guru dan dengan sendirinya pembelajaran sastra menjadi terpinggirkan.

b) Tugas dan Peran Guru pada Pengajaran Sastra

Tugas guru sastra tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif), tetapi juga keterampilan (aspek psikomotorik) dan menanamkan rasa cinta (aspek afektif), baik melalui baik kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Selama ini pengajaran sastra di sebagian besar sekolah hanya terjadi dalam ruang yang dibatasi dinding kelas. Hasilnya imajinasi dan kreasi siswa kurang berkembang optimal, misalnya ketika siswa mendapat tugas menulis puisi berkenaan dengan alam. Namun guru bersangkutan tidak mengajak ke alam terbuka. Padahal pemanfaatan situasi menumbuhkembangkan daya imajinasi kreasi mereka dalam penciptaan puisi.

Dalam proses pembelajaran seorang guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menciptkan srategi jitu. Guru juga dituntut mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas dari segi isi (materi) maupun kemasannya. Dalam konteks pembelajaran sastra, tentu saja guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan, serta tidak ketinggalan jaman.

  1. 4. Materi Pengajaran Sastra

4.1.1 Memilih Bahan Pengajaran Sastra

Bahan pengajaran sastra sangat penting pada proses pembelajaran. Materi yang sesuai akan dapat membantu siswa lebih mudah utuk memahami karya sastra. Materi ajar yang rumit dan sulit akan membuat siswa merasa bosan untuk menikmati karya sastranya. Rahmanto (1996:27—33) mengemukakan beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pengajaran sastra yaitu sebagai berikut:

a) Bahasa

Penguasaan suatu bahasa sebenarnya tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang Nampak jelas pada setiap individu. Sementara perkembangan karya sastra melewati tahap-tahap yang meliputi banyak aspe kebahasaan. Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang akan dibahas, tapi juga faktor lain seperti: cara penulisan yang dipakai si pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang.

b) Psikologi

Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap minta dan keenggaan anak didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologi ini juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan situasi atau pemecahan problem.

c) Latar belakang budaya

Biasanya siswa akan lebih mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka, terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan mereka atau yang memiliki kesamaan dengan mereka.Dengan demikian secara umum hendaknya guru sastra memilih bahan pengajaran dengan menggunakan prinsip yang mengutamakan karya-karya sastra yang latar ceritanya dikenal siswa. Karya-karya sastra dengan latar budaya sendiri yang dikenal siswa, akan membantu siswa untuk memahami budayanya sendiri.

  1. 5. Penerapan Pengajaran Sastra

5.1 Pengajaran Puisi

a) Hambatan Pengajaran Puisi

Dalam pengajaran puisi terdapat hambatan-hambatan yang mengganggu. Rahmanto (1996:44—45) mengemukakan hambatatan yang mengganggu bagaimana cara menikmati puisi yaitu; 1) Hambatan pertama adalah anggapan sementara orang yang berpendapat bahwa secara praktis puisi sudah tidak ada lagi gunanya. 2) pandangan yang disertai prasangka bahwa mempelajari puisi sering tersandung pada pengalaman pahit.

b) Teknik Pengajaran Puisi

Teknik pengajaran sangat beperan untuk mengatur proses pembelajaran. Teknik mampu mengarahkan agar proses pembelajaran sastra tepat dan dapat dipahami oleh siswa. Berdasarkan hal tersebut pula, Rahmanto (1996:48—53) mengemukakan teknik-teknik pengajaran puisi, yaitu sebagai berikut:

  1. Pelacakan pendahuluan, yaitu sebelum mengajar guru harus memahami tentang puisi yang akan disajikannya. Pemahaman ini penting untuk menemukan strategi yang tepat dan menentukan aspek-aspek yang membutuhkan perhatian khusus dari siswa.
  2. Penentuan sikap praktis, yaitu dalam mengajar sebaiknya puisi yang dibahas tidak terlalu panjang sehingga selesai pada setiap pertemuan. Selain itu ditentukan pula informasi apa yang seharusnya dapat diberikan untuk mempermudah siswa memahami puisi.
  3. Introduksi, banyak faktor yang mempengaruhi penyajian pengantar ini, termasuk situasi dan kondisi pada saat materi disajikan. Pengantar ini akan sangat tergantung pada individu guru, keadaan siswa dan karakteristik puisi yang diberikan.
  4. Penyajian, puisi merupakan bentuk sastra lisan. Dalam menyajikannya, pesan dan kesan yang dibawakan baru akan benar-benar menyentuh gerak hati seseorang apabila puisi itu dibacakan atau dikutip secara lisan. Puisi memiliki nilai-nilai iramatis dan dramatis yang sangat menentukan kualitasnya.
  5. Diskusi, dalam hal ini imajinasi guru sangat mempengaruhi masalah yang akan dibahas, baik mengenai kekhususan puisi dan tanggapan siswa dikelas.
  6. Pengukuhan, pada tahap ini terdapat langkah-langkah yaitu, pada dasarnya harus diusahakan siswa membacakan puisi secara lisan dan akan lebih baik lagi jika siswa mampu menulis puisi.

c) Penerapan Model Formeaning Response untuk Pengajaran Puisi

Model dan strategi pada dasarnya bertujuan untuk membantu proses pembelajaran agar berlangsung baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam hal ini diterapkan model formeaning response untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Menurut Nurhayati (2011) strategi formeaning response merupakan kombinasi dua srategi yakni strategi stilistik dan respon pembaca. Kata formeaning berasal dari kata form dan meaning yang mengacu pada strategi stilistik yakni startegi yang berpusat kepada bahasa yang terdapat dalam karya sastra/puisi. Kata response mengacu pada srategi respon pembaca mengasumsikan bahwa ketika siswa secara personal bergaul dengan karya sastra menggunakan pengetahuan dan pengalaman mereka masing-masing.

Menurut Kelem dikutip Nurhayati (2011) terdapat delapan kegiatan pelaksanaan model formeaning response yaitu sebagai berikut: 1) kegiatan warm-up, yaitu kegiatan brainstorming dengan mengekspresikan opini siswa terhadap puisi yang akan dibaca. 2) kegiatan memfokuskan bentuk dan makna puisi yang berkaitan dengan unsur-unsur puisi. Kegiatan ini berupa latihan memberikan beberapa alternatif kata-kata yang sesuai atau tepat terhadap kata-kata yang “khas” dalam konteks keseluruhan puisi. 3) Kegiatan menyimak kata-kata yang dirumpangkan. Guru melisankan puisi yang telah dirumpangkan kata-kata tertentu. 4) Kegiatan mendaftar kata-kata kerja atau sambung dan objek-objek kongret dalam puisi. Siswa kemudian diminta untuk mengelompokkan kata-kata itu berdasarkan kategori kata. 5) Kegiatan berdiskusi, kelompok kecil (2 atau 3 orang). 6) Kegiatan mengambar, siswa membuat gambar tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. 7) Kegiatan role play. Siswa melakukan kegiatan bermain peran dengan berlaku seperti layaknya tokoh-tokoh yang ada dalam puisi. 8) Kegiatan menulis surat. Kegiatan selanjutnya ialah kegiatan merespon puisi dengan cara mengirim surat kepada tokoh yang ada dalam puisi, memberi saran kepada tokoh, atau membuat catatan tentang tokoh.

5.2 Pengajaran Prosa Cerita

a) Prosa

Prosa merupakan karangan bebas yang diekspresikan pengarang. Prosa diciptakan berdasarkan ide dan imajinasi penulis. Menurut Supriyadi (2006:27) mengemukakan prosa adalah karangan sastra bebas yang mengekspresikan pengalaman batin pengarang mengenai masalah hidup dan kehidupan dengan bahasa yang indah (estetik). Berdasarkan isi karangan, karya sastra dibedakan menjadi dua yaitu, karya sastra prosa fiksi dan prosa nonfiksi. Sedangkan berdasarkan waktu, prosa dapat digolongkan dalam prosa lama, sebelum zaman Balai Pustaka dan prosa baru sesudah zaman Balai Pustaka. Selain itu, Supriyadi (2006:28) mengemukakan prosa fiksi berarti prosa yang isinya/ceritanya hasil rekaan atau khayalan pengarangnya. Prosa fiksi didefinisikan sebagai cerita sastra yang menggunakan bahasa yang estetis. Jenis prosa fiksi terdiri atas dongeng, hikayat, roman, novel, cergam dan cerpen.

Prosa non fiksi adalah karangan sastra yang isinya menceritakan hidup dan kehidupan tokoh-tokohnya secara mendatar. Jenis-jenis prosa non fiksi adalah biografi/otobiografi, sejarah/babat, esai, kritik, surat-surat, memoar (Supriyadi, 2006:41).

b) Novel dan Cerita Pendek

Dalam The American Collage Dictionarry dikutip Tarigan (2011:167) “bahwa novel adalah suatu prosa yang fiktif dalam panjang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak, serta adegan kehidupan nyata yang representative dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau dan kusut”. Sedangkan, cerita pendek adalah penyajian suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. (Ellery Sedwig dikutip Tarigan, 2011:179).

Novel dan cerita pendek memiliki perbedaan, menurut Tarigan (2011:173) perbedaan novel dan cerita pendek terlihat pada jumlah kata, jumlah halaman, serta jumlah waktu saat membacanya. Selain itu, cerita pendek menyajikan satu emosi saja, sedangkan novel lebih dari satu emosi. Cerita pendek pula menyajikan satu kesatuan efek sedangkan novel menyajikan lebih dari satu efek.

c) Unsur-unsur Novel

Novel memiliki unsur-unsur yang mempengaruhi pembentukkannya, menurut Rahmanto (1996:70—75) unsur-unsurnya yaitu:

  1. Latar, yaitu unsur dari prosa yang menyangkut tentang lingkungan, geografi, sosial, sejarah, dan bahkan lingkungan politik atau latar belakang tempat atau kisah berlangsung.
  2. Perwatakan merupakan daya tarik pembaca, melalui perwatakan terpancar imajianasi kreatif seorang pengarang. Unsur perwatakan ini terbagi atas dua makna, yaitu perwatakan sebagai dramatik persona yang menunjuk pada pribadi yang mengambil bagian di dalamnya. Kedua, menunjukkan kualitas khas perwatakan tersebut pada pribadi tertentu.
  3. Cerita, pada dasarnya unsur cerita sangat penting pada suatu novel. Unsur tentang ‘apa yang terjadi” dan “mengapa terjadi’ pada satu peristiwa sangat menarik perhatian. Cerita yang menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia baik konflik fisik maupun batin yang terjadi dalam suatu cerita.
  4. Teknik cerita, yaitu teknik yang digunakan pengarang untuk menceritakan. Misalnya cerita yang disajikan pengarang tentang orang pertama atau orang ketiga, dan cerita tentang tokoh yang disajikan pengarang lewat beberapa tokoh dalam novel secara bergantian.
  5. Bahasa, unsur-unsur kebahasaan dalam suatu novel merupakan sumber bahan yang cukup luas untuk dipelajari. Untuk mendeskripsikan dan membuat definisi di dalam novelnya, biasanya penulis menggunakan pola kebahasaan yang seragam dari awal sampai akhir.
  6. Tema merupakan kesimpulan dari fakta-fakta yang telah ada. Pada dasarnya puncak dalam mempelajari novel sebenarnya menemukan kesimpulan dari seluruh analisis fakta-fakta dalam cerita yang yang telah dicerna. Fakta-fakta yang ada dalam cerita berperan sebagai model-model universal yang dihadapi oleh manusia. Bahkan hasil analisis fakta-fakta cerita memberikan saran untuk memecahkan problem yang ada.

d) Teknik Sumbang Saran untuk Apreasiasi Prosa

  1. Prinsip Teknik Sumbang Saran

Teknik sumbang saran merupakan teknik pengajaran dalam sastra. Teknik pengajaran ini menurut Ampera (2010:68) adalah teknik yang dapat membantu pengajaran sastra. Teknik sumbang saran adalah teknik pengajaran sastra berbentuk permbincangan kreatif setiap individu dalam suatu kelompok untuk mendapatkan suatu rumusan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Teknik sumbang saran ini memberikan peluang kepada siswa untuk berpikir analitis dan kreatif. Setiap anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyumbangkan ide atau gagasan secara kreatif. Setiap ide dan gagasan yang diungkapkan, kemudian didiskusikan, hingga diperoleh kesimpulan.

Dalam teknik sumbang saran, faktor yang harus menjadi pusat perhatian adalah gagasan, waktu, dan jumlah anggota kelompok. Kemudian banyaknya gagasan tergantung pada banyaknya anggota kelompok, hal ini pun akan berpengaruh pada pelaksanaan diskusi. Sebaiknya waktu dibatasi tidak terlalu lama, sekitar 30 sampai 40 menit. Setiap anggota diberi kebebasan untuk memberikan saran secara bergiliran.

  1. Teknik Sumbang Saran dalam Apreasiasi Prosa.

Sebelum pengajaran dimulai, pengajar sudah memilih karya sastra dalam bentuk prosa, misalnya cerita pendek untuk bahan apresiasi. Kemudian membagi siswa ke dalam beberapa kelompok serta menentukan ketua kelompok. Sebelum kegiatan dimulai, pengajar menerangkan tajuk kegiatan pokok-pokok yang berkaitan dengan materi pembelajaran.

Siswa perlu memahami unsur-unsur pembangun sastra, berupa latar, alur, watak dan perwatakan, sudut pandang, tema dan amanat. Pengajar bertindak sebagai fasilisator. Selepas kegiatan, pengajar melakukan evaluasi dan memilih gagasan yang baik, serta memilih siswa yang memperlihatkan tindak tutur yang baik dalam menyampaikan gagasannya (Ampera, 2010:69).

5.3 Pengajaran Drama

a) Unsur-unsur Drama

Unsur-unsur drama menurut Tarigan (2011:75—81) yaitu, 1) Alur, dalam drama diawali dengan tahapan-tahapn yaitu, eksposisi, komplikasi, resolusi, klimaks, peleraian dan babak akhir. 2) Penokohan, dalam suatu lakon terdapat pelaku atau aktor yang berperan dalam drama tersebut. 3) Dialog pada drama membantu mempertinggi nilai gerak dan menjadi inti utama dalam unsur-unsur drama. 4) Aneka sarana kesastraan dan kedramaan yang mendukung penampilan pelaku dalam suatu drama.

b) Jenis-jenis drama

Menurut jenisnya drama terbagi atas empat jenis yaitu, 1) tragedi, dapat berupa kisah kasihan karena penderitaan yang ditanggung oleh pelaku utama. 2) komedi merupakan kelucuan yang dihasilkan, yaitu berupa humor, yang kelucuanya tidak dibuat-buat. 3) melodrama, memunculkan rasa kasihan tetapi lebih cenderung ke arah sentimentil dan tokoh utama biasanya menang dalam perjuangan. 4) farce, dalam hal ini contohnya melodrama bagi tragedi, sedangkan farce bagi komedi. Farce dapat dikatakan lebih baik, lebih besar, lebih penting daripada sebenarnya dan penekanan dititikberatkan pada alur dibandingkan penokohan dan karakterisasi (Tarigan, 83—88).

c) Pengajaran Drama dengan Teknik Bermain Peran

Prinsip Teknik Bermain Peran

Bermain peran adalah salah satu teknik yang dapat digunakan pada pengajaran drama. Ampera (2010:38) mengemukakan mengajar sastra dengan teknik bermain peran, yaitu proses belajar mengajar dengan melibatkan siswa untuk memerankan watak-watak yang digambarkan dalam karya sastra. Dengan bermain peran, siswa diharapkan mampu menghayati karya sastra. Melalui bermain peran, siswa akan mendapatkan pengalaman-pengalaman emosi dan estetik, sehingga dapat menunjang perkembangan kecerdasan emosi anak.

Berdasarkan hal tersebut menurut Naffi dikutip Ampera (2010:39) dalam bermain peran pada pengajaran sastra anak dapat dipertimbangkan langkah-langkah berikut:

  1. Rancang situasi bermain peran dengan teliti, di samping mengenali secara pasti masalah-masalah yang akan muncul. Tentukan peran-peran yang diperlukan seperti memilih siswa yang dapat memerankan watak tertentu. Perlengkapan lain yang diperlukan juga harus dipersiapkan. Selain itu, sebelum dimulai, pengajar menerangkan kepentingan perlengkapan yang diperlukan serta peran yang perlu dimainkan dalam kegiatan bermain peran.
  2. Pelajar-pelajar yang mendapatkan tugas untuk memerankan watak tertentu harus dengan suka cita untuk berperan. Hal ini penting karena bermain peran akan berhasil apabila siswa dapat memahami peran yang dimainkan dengan tanpa keraguan untuk bermain.
  3. Ketika satu kelompok ambil bagian dalam melakukan pertunjukan, siswa-siswa lain perlu melakukan apreasiasi. Walaupun tindakan-tindakan spontan, tetapi tidak keluar dari konsep pertunjukan.
  4. Selesai bermain peran, pengajar dan siswa perlu melakukan diskusi seputar kesan dalam bermain peran. Diskusi dapat berupa permasalahan mengenai kekuatan dan kelemahan dalam berperan. Selain itu pula melakukan evaluasi mengenai jalannya kegiatan drama dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.

Rabu, 04 April 2012

Pantun

Pantun adalah bentuk puisi yang terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan biasanya tiap baris terdiri atas empat perkataan. Dua baris pertama disebut sampiran (pembayang), sedangkan dua baris berikutnya disebut isi pantun.
Antara sampiran dan isi terdapat hubungan makna. Hubungan antara keduanya bukan hanya dalam tataran makna, tapi juga bunyi. Bisa dikatakan jika sampiran sebenarnya membayangkan isi pantun.

Pada pantun yang baik, terdapat hubungan makna tersembunyi dalam sampiran, sedangkan pada pantun yang kurang baik, hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi. Pantun yang baik dengan sebutan pantun sempurna/penuh, dan pantun yang kurang baik dengan sebutan pantun tak penuh/tak sempurna. Karena sampiran dan isi sama-sama mengandung makna yang dalam (berisi), maka kemudian dikatakan, “sampiran dapat menjadi isi, dan isi dapat menjadi sampiran.”

Dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, pantun merupakan jenis sastra lisan yang paling populer. Penggunaannya hampir merata di setiap kalangan: tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya miskin, pejabat-rakyat biasa dst. Dalam prkatiknya, pantun ini diklasifikasi ke dalam beberapa jenis yaitu: Pantun Nasihat, Pantun Berkasih Sayang, Pantun Suasana Hati, Pantun Pembangkit Semangat, Pantun Kerendahan Hati, Pantun Pujian, Pantun Teka-teki, Pantun Terhadap Perempuan, dan Pantun Jenaka.

Pantun juga berfungsi sebagai bentuk interaksi yang saling berbalas, baik itu dilakukan pada situasi formal maupun informal. Pantun pada masyarakat Melayu mengalir berdasarkan tema apa yang tengah diperbincangkan. Ketika seseorang mulai memberikan pantun, maka rekan lainnya berbalas dengan tetap menjaga tali perbincangan. Dalam interaksi pantun berbalas ini berlatar belakang pada situasi formal maupun situasi informal. Pada situasi formal semisal ketika meminang atau juga membuka sebuah pidato, sedangkan pada situasi informal seperti perbincangan antar rekan sebaya.

Pantun adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis, karena dapat digunakan pada situasi apapun.

Di mana orang berkampung disana pantun bersambung.
Di mana ada nikah kawin disana pantun dijalin.
Di mana orang berunding di sana pantun bergandeng.
Di mana orang bermufakat di sana pantun diangkat.
Di mana ada adat dibilang, di sana pantun diulang.
Di mana adat di bahas di sana pantun dilepas.

Senin, 02 April 2012

Seni Drama

A. Pengertian Seni Drama

Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan diatas pentas. Melihat drama, penonton-penonton seolah melihat kejadian-kejadian dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka maupun duka, pahit manis, hitam putih kehidupan manusia. (Prof. Dr. Herman J. Waluyo 1)

Perkataan drama berasal dari bahasa yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau beraksi. Yang dimaksud teks-teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog-dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur. (Janvan Luxemburgh, dkk 158)

Drama adalah karya sastra yang menggambarkan aktivitas kehidupan manusia yang dalam penceritaannya menekankan dialog, laku dan gerak. Meski drama adalah karya sastra yang bisa dibaca dan dianalisa secara tekstual karena menggunakan medium bahasa dalam penciptaannya, namun drama pada dasarnya ditulis untuk dipentaskan di atas panggung (stage). Oleh karena itu, dalam teks drama, selain terdapat unsur dialog sebagai penanda alur cerita, pembaca juga akan menemukan gambaran ekspresi dan laku (Stage direction) yang ditulis pengarang untuk memberikan gambaran kepada para pembaca, calon aktor, dan juga sutradara tentang tingkah laku, ekspresi, gerak dan juga mimik tokoh-tokoh dalam drama.



B. Pembelajaran Drama

Pembelajaran darama di sekolah dapat ditafsirkan dua macam yaitu : pembelajaran teori drama, atau pembelajaran apresiasi drama. Masing-masing juga terdiri atas dua jenis, yaitu; pembelajaran teori tentang teks naskah drama dan apresiasi pementasan drama. Dalam apresiasi yang itu naskah maupun pementasan tampaknya kedua hal ini penting, hanya saja tekanannya harus pada aspek apresiasi. Jika teori termasuk dalam kawasan kognitif, maka apresiasi menitikberatkan kawasan afektif.

Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan sekolah. Perihal meteri ini ada berbagai pendapat materi teori drama dan materi apresiasi drama. Materi teori drama berupa buku pegangan teoretis tentang apa dan bagaimana serta untuk apanya drama , semakin tinggi jenjang pendidikan tentulah semakin mendalam. Satu langkah yang bisa ditempuh agar siswa meningkat daya apresiasinya adalah meningkatkan kemampuan membaca karya sastra dalam tugas-tugas di rumah. (Suroso : 152)

Hal ini disebabkan membaca sastra tidak mungkin dilakukan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas formal. Apalagi mainimnya alokasi waktu yang tersedia untuk pengajaran sastra. Selain itu, perlu dipompakan semangat kepada siswa untuk senantiasa menonton seni pertunjukan serta mengamati berbagai peristiwa sosial budaya. Siswa akan memiliki pengetahuan luas masalah kehidupan pada umumnya dan dan budaya seni, sastra, dan drama.

Drama juga berperan sebagai penunjang pemahaman dan penggunaan Bahasa. Waktu menonton suatu drama sering terjadi penonton dapat memahami jalan cerita sungguhpun ada kata-kata atau kalimat yang kurang dipahaminya. Ini dimungkinkan karena pembicaraan dalam dialog satu drama diikuti oleh mimik dan gerak-gerik serta intonasi yang jelas oleh pelaku yang memainkan perannya yang baik. Melalui drama, selain dapat mempelajari dan menikmati isinya, orang juga dapat memahami masalah yang disodorkan didalamnya tentang masyarakat. Melalui dialog-dialog pelaku dan murid sekaligus belajar tentang isi drama tersebut dan juga mempertinggi pengertian mereka tentang bahasa lisan. Membaca naskah drama dapat memperkaya kemampuan pembaca dengan memahami jalan cerita, tema, problematika dalam drama tersebut. Jika pembaca memang diarahkan untuk itu.

Pengajaran drama sebagai penunjang pemahaman bahasa berarti melatih ketrampilan :

a. Membaca (Teks Drama)

Teks drama adalah wacana dialog yang berbeda-beda dengan teks prosa. Wacana dialog lebih sulit dibaca atau dipahami karena dialog tokoh-tokoh yang satu dilengkapi oleh tokoh yang lain.

b. Mendengarkan (Menyimak Drama)

Teks drama dapat juga dibaca didepan kelas oleh beberapa murid, sedang murid lainnyamendengarkan, mencatat tema dan isinya, dan berusaha untuk dapat menggapai hasil kegiatan mendengarkan itu.

c. Menulis

Menulis yang berkaitan dengan pengajaran drama dapat berupa menulis teks drama sederhana, ataupun menulis resensi teks drama.

d. Wicara

Latihan wicara dapat dilaksanakan dengan menceritakan isi singkat drama didepan kelas dan pendramaan teks drama dengan pendramaan itu, dapat dibina kelancaran berbicara. Latihan wicara itu dapat juga dilakukan dengan pengkasetan dialog seperti dalam drama radio.



C. Manfaat dari Pembelajaran Drama

Pementasan naskah drama bila dikaji lebih jauh akan memberikan beberapa manfaat bagi siswa. Pertama, siswa akan belajar memahami heterogenitas budaya (multikulturalisme) yang tercermin dalam sebuah pementasan, baik yang berwujud ide, benda dan kebiasaan. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa teks drama merupakan cerminan dari hasil budaya yang lahir dan berkembang dalam negara dan bangsa tertentu dengan etnis dan sukunya. Filosofi dan keunikan sebuah budaya akan terlihat dalam kostum, kebiasaan dan tradisi yang ditampilkan oleh aktor, dan dari properti dan dekorasi panggung. Teks drama yang dipentaskan selalu menghadirkan protret kebudayaan dan peradapan manusia yang pasti sedikit banyak mempengaruhi pikiran dan perasaan aktor dan juga para penonton.

Kedua, siswa akan lebih memiliki rasa percaya diri terutama ketika berhadapan dengan publik. Beban psikologis untuk berbicara, beraktualisasi, dan bertindak dihadapan orang banyak dengan sendirinya akan terkikis melalui serangkaian proses bersama yang dijalani dalam bermain drama. Rasa canggung dan minder akan hilang secara perlahan ketika siswa berada diatas panggung, dan melalui dorongan dan motivasi guru dan teman-temannya, mereka dilatih untuk tidak ragu-ragu lagi memerankan tokoh dalam naskah drama.

Ketiga, siswa akan mendapat kesempatan luas untuk bersosialisasi dan meningkatkan kemampuan dalam mengorganisasikan kerja tim. Hal ini tidak terlepas dari kompleksitas sumber daya yang dibutuhkan dalam pementasan mulai dari pemain, sutradara, penata rias, penata musik dan tim artistik panggung. Kerjasama dalam proses mengangkat teks tertulis dalam sebuah pertunjukan ini diharapkan akan memberi ruang bagi siswa untuk tidak hanya sekedar mengenal berbagai karakter anggota kelompok tetapijuaga meningkatkan kemampuan dan pengalaman dalam manajemen, khususnya seni pertunjukan.



D. Media Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Kegiatan Drama

Bahasa Inggris sering dianggap sebagai pelajaran yang paling menakutkan dan sulit untuk dipelajari karena antara pengucapan (pronunciation) dan tulisan (writing) berbeda. Namun jika menggunakan media pembelajaran yang tepat mungkinakan lebih mudah bagi siswa untuk memahami atau belajar Bahasa Inggris. Media pembelajaran Bahasa Inggris yang cukup bermanfaat untuk pemahaman siswa adalah melalui kegiatan drama. Peserta didik sering mengalami kesulitan untuk berbicara (speaking). Kesulitan berbicara biasanya disebabkan:

1. Kesulitan mengungkapkan ide; sehingga peserta didik bingung apa yang akan mereka tampilkan.

2. Terbatasnya kosakata (vocabulary) dan grammar (tata bahasa); sehingga peserta didik sulit berbicara dengan lancar dan berterima.

3. Keterbatasan melafalkan/mengucapkan kata-kata (pronunciation); sehingga sulit mengucapkan kata dengan benar.

4. Tidak adanya keberanian berbicara karena takut salah.



Agar para siswa dapat berbicara dalam bahasa inggris, bisa dicoba pembelajaran melalui drama dengan teknik pembelajaran sebagai berikut:

1. Membagi siswa dalam kelompok yang terdiri atas 5-6 orang secara heterogen berdasarkan kemampuan.

2. Ambil sebuah cerita dan bagi menjadi penggalan-penggalan cerita. Setiap kelompok mendapatkan satu penggalan cerita tersebut.

3. Secara berurutan, setiap kelompok memerankan penggalan cerita tersebut maksimal 10 menit.



Aspek-aspek penilaian speaking secara individu dengan memperhatikan:

1. Intonasi (Intonation)

2. Pengucapan (Pronunciation)

3. Tata bahasa (Grammar)

4. Kelancaran berbicara (Fluency)

5. Gaya bahasa (Diction)

Karya Sastra Melayu Klasik

Sastra Melayu Klasik sudah eksis di tanah air sejak abad ke-16 Masehi. Semenjak itu hingga sekarang gaya bahasanya tak banyak mengalami perubahan.

Naskah pertama yang tertulis dalam bahasa Melayu klasik berupa sepucuk surat dari raja Ternate, Sultan Abu Hayat kepada raja JoĂŁo III di Portugal berangka tahun 1521 Masehi.

Bentuk-bentuk Karya Sastra Melayu Klasik

Karya Sastra Melayu Klasik - Gurindam Dua Belas
Kumpulan gurindam karya Raja Ali Haji, Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas sebab berisi 12 masalah, diantaranya tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

Karya Sastra Melayu Klasik - Hikayat
Salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Baca Hikayat Hang Tuah.

Karya Sastra Melayu Klasik - Karmina
Populer disebut pantun kilat adalah pantun dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua langsung isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya dipakai untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
- Contoh:
"Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu masih bertanya pula"

Karya Sastra Melayu Klasik - Pantun
Serupa puisi 4 baris, berciri sajak a-b-a-b attau a-a-a-a. Dua baris awal merupakan sampiran, umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris ujung bagian isi, sebagai tujuan pantun.
- Contoh:
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Karya Sastra Melayu Klasik - Seloka
Merupakan bentuk puisi Karya Sastra Melayu Klasik, berisi pepetah ataupun perumpamaan mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Lumrahnya ditulis empat baris menggunakan bentuk pantun atau syair, kadang kala bisa juga ditemukan pada seloka yang ditulis lebih dari empat-baris.
- Misal:
Anak pak dolah makan lepat
makan lepat sambil melompat
nak hantar kad raya dah tak sempat
pakai sms pun ok wat ?

Karya Sastra Melayu Klasik - Syair
Bagian puisi atau karangan dalam bentuk terikat, mengutamakan irama sajak. Biasanya berbentuk 4 baris, bernada aaaa, keempat baris itu mengandung makna penyair.

Karya Sastra Melayu Klasik - Talibun
Sejenis puisi lama seperti pantun sebaba memiliki sampiran dan isi, tapi lebih dari 4-baris (bisa 6-20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, seterusnya.
- Contoh:
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

Kamis, 29 Maret 2012

Daftar Nama Sastrawan Indonesia


Sebuah pagi beranjak dengan ayunan langkah kecil anak-anak dusun menuju sekolah. Matahari perlahan meninggi. Seseorang dari gerombolan bocah berseragam putih merah itu tiba-tiba mampir di beranda rumah dengan senyum malu-malu. "Om bisa bantu saya nggak?"suaranya sedikit tersipu dengan rambut masih basah. Khas anak dusun yang pasti selalu mandi pagi di pancuran. Dia lalu memaparkan dengan singkat maksudnya pagi itu. Lalu saya bergegas ke belakang. Berselang beberapa menit saya keluar lagi dengan selembar kertas hasil print berisi daftar sastrawan Indonesia yang pernah tercatat dalam sejarah.
Pagi itu saya agak tercenung dengan kejadian kecil itu. Bukan lantaran telah berhasil menyelesaikan kewajiban membantu sesama apalagi menolong seorang anak bangsa. Bahkan dalam pikiran saya tadi pasti sahabat kecil itu bisa saja dihukum oleh gurunya jika ketahuan tidak mampu menyelesaikan tugas sekolah dengan mengumpulkan daftar nama sastrawan Indonesia. Saya tertegun sebab saya menyadari kemampuan diri yang belum tentu bisa menyamai keberanian anak kecil itu. Entah ilham darimana pula dia tiba-tiba meminta bantuan saya. Bahkan, jujur saya sendiri sudah banyak lupa dengan nama-nama sastrawan penting bangsa ini. Sebaliknya bocah kecil itu masih punya daya hapal kuat yang mampu mengisi memorinya otaknya dengan pengetahuan tentang sastrawan tanah air.
Dengan secangkir kopi susu dan beberapa batang rokok mulailah saya menjelajahi isi kopian kertas yang berhasil diperoleh bocah itu pagi tadi.
Inilah daftar sastrawan Indonesia

Aam Amilia
A.A. Navis
Abdul Hadi WM
Abdul Muis
Abdul Wahid Situmeang
Acep Zamzam Noor
Achdiat K. Mihardja
Achmad Munif
A.D. Donggo
Adinegoro
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Ahmad Subbanuddin Alwie
Ahmad Tohari
Ahmadun Yosi Herfanda
Ahmad Yulden Erwin
Ajip Rosidi
Akmal Nasery Basral
Amir Hamzah
A. Mustofa Bisri
Anak Agung Panji Tisna
Andrea Hirata
Andrei Aksana
Ani Sekarningsih
Aoh K. Hadimadja
Ariel Heriyanto
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arifin C. Noer
Ari Pahala Hutabarat
Ari Setya Ardhi
Arswendo Atmowiloto
Armijn Pane
Asma Nadia
A.S. Dharta
A.S. Laksana
Asep S. Sambodja
Asrul Sani
Ayatrohaedi
Ayu Utami
B. Rahmanto
Bagus Putu Parto
Bambang Set
Beni R. Budiman
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Bonari Nabonenar
Bondan Winarno
Budi Darma
Budiman S. Hartoyo
Budi P. Hatees
Chairil Anwar
Clara Ng
Dami N. Toda
Danarto
Darman Moenir
Darmanto Jatman
Dharmadi
Dewi Lestari
Dian Hartati
Diani Savitri
Dimas Arika Mihardja
Dina Oktaviani
Djamil Suherman
Djenar Maesa Ayu
Dorothea Rosa Herliany
Dyah Merta
Dyah Setyawati
D. Zawawi Imron
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Eko Tunas
Emha Ainun Nadjib
Faruk HT
FX Rudi Gunawan
Gerson Poyk
Godi Suwarna
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Gus tf Sakai
H.B. Jasin
Habiburrahman El Shirazy
Hamka
Hamid Jabbar
Hamsad Rangkuti
Hartojo Andangdjaja
Helvy Tiana Rosa
Herman J. Waluyo
Hersri Setiawan
Ibnu Wahyudi
Ibrahim Sattah
Idrus
Iggoy el Fitra
Indra Cahyadi
Indra Tranggono
Intan Paramaditha
Isbedy Stiawan ZS
Iswadi Pratama
Iwan Simatupang
Iyut Fitra
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jeffry Alkatiri
J.E. Tatengkeng
Joni Ariadinata
Korrie Layun Rampan
Kriapur
Kuntowijoyo
Kurnia Effendi
Kuswinarto
Kwee Tek Hoay
Linda Christanty
Linus Suryadi AG
Lukman A Sya
Maman S. Mahayana
Mansur Samin
Marah Roesli
Marga T
Marianne Katoppo
Martin Aleida
Max Ariffin
Medy Loekito
Melani Budianto
Mh. Rustandi Kartakusuma
Mochtar Lubis
Mohammad Diponegoro
Motinggo Busye
M. Shoim Anwar
Muhammad Kasim
Mustafa W. Hasyim
Nanang Suryadi
Nazaruddin Azhar
Nenden Lilis A
Ngarto Februana
Nh. Dini
Nirwan Dewanto
Noorca M. Massardi
Nova Riyanti Yusuf
Nugroho Notosusanto
Nur Sutan Iskandar
Nyoo Cheong Seng
Oyos Saroso HN
Palti R Tamba
Pamusuk Eneste
Panji Utama
Parakitri T Simbolon
Piek Ardijanto Soeprijadi
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Primadonna Angela
Putu Wijaya
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Ramadhan K.H.
Rachmat Djoko Pradopo
Rachmat Nugraha
Ratih Kumala
Ratna Indraswari Ibrahim
Remy Sylado
Rieke Diah Pitaloka
Rijono Pratikto
Riris K. Sarumpeat
Rosihan Anwar
Rukmi Wisnu Wardani
Rusman Sutiasumarga
Saeful Badar
Sanusi Pane
Sarabunis Mubarok
Saut Situmorang
Sapardi Djoko Damono
Selasih/Seleguri
Seno Gumira Ajidarma
Sholeh UG
Sindhunata
Sitok Srengenge
Sitor Situmorang
Slamet Sukirnanto
SM Ardan
SN Ratmana
Sobron Aidit
Soekanto SA
Sony Farid Maulana
Sosiawan Leak
S. Sinansari ecip
Subagio Sastrowardoyo
Suman Hs
Suminto A Sayuti
Sunaryo Basuki Ks
Suparto Brata
Sutan Iwan Sukri Munaf
Sutan Takdir Alisjahbana
Sutardji Calzoum Bachri
S. Yoga
Tajuddin Noor Gani
Taufiq Ismail
Teguh Winarso AS
Timur Sinar Suprabana
Titie Said
Titis Basino
Toety Heraty Nurhadi
Toto Sudarto Bachtiar
Trisnojuwono
Trisno Sumardjo
Triyanto Triwikromo
T Wijaya
Viddy AD Daery
Udo Z. Karzi
Umar Junus
Umar Kayam
Umar Nur Zain
Umbu Landu Paranggi
Usmar Ismail
Utuy Tatang Sontani
W. Hariyanto
W.S. Rendra
Widjati
Widji Thukul
Wowok Hesti Prabowo
Yonathan Rahardjo
Yudhistira ANM Massardi
Yusach Ananda
Y. Wibowo
Zainal Afif
Zainuddin Tamir Koto
Zen Hae
Zoya Herawati


Penyair Indonesia

Acep Zamzam Noor
Ahmadun Yosi Herfanda
Afrizal Malna
Amir Hamzah
Beni R Budiman
Beni Setia
Binhad Nurrohmat
Chairil Anwar
Dorothea Rosa Herliany
Djamil Suherman
Goenawan Mohammad
Hasan Aspahani
H.B. Yasin
Joko Pinurbo
Jose Rizal Manua
Kusprihyanto Namma
Medy Loekito
Nirwan Dewanto
Rayani Sriwidodo
Remy Silado
Sam Haidy
Sapardi Djoko Damono
Sitor Situmorang
Saut Situmorang
Saut Sitompul
Cecep Syamsul Hari
Subagio Sastrowardoyo
Sutan Takdir Alisyahbana
Sutardji Calzoum Bachri
Taufik Ismail
Udo Z. Karzi
Usmar Ismail
Utuy Tatang Sontani
Wahyu Prasetya
Widji Thukul
W.S. Rendra

Cerpenis

Ali Akbar Navis
Abidah el Khalieqy
Ahmadun Yosi Herfanda
Akmal Nasery Basral
Armijn Pane
A.S. Laksana
Damhuri Muhammad
Danarto
Hamka
Helvy Tiana Rosa
Imam Muhtarom
Irfan Hidayatullah
Korrie Layun Rampan
Kuntowijoyo
Lan Fang
Leila S. Chudori
Martin Aleida
Palti R Tamba
Seno Gumira Ajidarma
Taufik Ikram Jamil
Wisnu Sujianto

Novelis

Aam Amilia
Akmal Nasery Basral
Andrea Hirata
Armijn Pane
Asma Nadia
A.S. Laksana
Ayu Utami
Budi Darma
Dewi Lestari
Djamil Suherman
Gola Gong
Habiburrahman El Shirazy
Marga T
Mochtar Lubis
Motinggo Busye
Nh. Dini
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Remy Silado
Seno Gumira Adjidarma
Sobron Aidit
Suwarsih Djojopuspito
Titie Said
Titis Basino
Titiek WS
Y.B.Mangunwijaya

Kritikus/Eseis

Abdul Hadi WM
Arif B. Prasetyo
Budi Darma
Dami N. Toda
Emha Ainun Nadjib
Goenawan Mohamad
Maman S. Mahayana
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto

Rabu, 21 Maret 2012

Pujangga Jawa


Sesunguhnya, di Jawa, atau tepatnya di Surakarta, sekitar 150 tahun sebelum lahirnya Pujangga Baru, telah ada pujangga yang memiliki reputasi tinggi.Salah satu diantaranya adalah Kiai Jasadipuro I dan Jasadipuro II. Hanya Bedanya, mereka mengarang dalam bahasa Jawa dan dengan huruf jawa pula. Sesudah keduanya tiada, menyusul pujangga yang tak kalah hebatnya, yakni Kiai Ronggowarsito. Apakah mereka semua sudah bisa digolongkan atau dianggap sebagai embrio pujangga sastra Indonesia, saya tak tahu pasti. Yang jelas, peninggalannya dalam "sastra jawa", memiliki arti penting tersendiri.

Akan halnya Kiai Jasadipuro I lahir tahun 1792 dan wafat tahun 1802. Pujangga Surakarta ini berputera Tumenggung Sastranegara, atau Kiai Jasadipuro II. Keduanya pujangga, bahkan terkadang sulit membedakan hasil karyanya, karena mereka melahirkan karyanya secara bersama.Adapun hasil karyanya yang terkenal antara lain gubahan Arjuna Wiwaha, diterbitkan oleh Dr. Palme van den Broek tahun 1868 di Batavia; Serat Rama diterbitkan tahun 1846 oleh Bataviaasch Genootschap. Kemudian diterbitkan GCT van Dorp di Semarang tahun 1872 dan 1884. Baru kemudian diterbitkan oleh Penerbi Balai Pustaka tahun 1925.

Menyusul kemudian gubahan Bharatayudha-nya di terbitkan oleh Dr.AB. Cohen Stuart tahun 1856 dan oleh Bataviaasch Genootschap tahun 1860. Selanjutnya, di Surakarta sendiri oleh Raden Dirdjaatmadja diterbitkan secara berturut-turut 1901,1903 dan 1908.

Karya lainnya serat Panitisastra yang ditulisnya terbit tahun 1798. Serat Dewarutji Djarwa terbit 1801, Serak Meruk tahun 1934 oleh Balai PUstaka. Serat Ambija 1808, Serat Tandjusalatin 1804 , Serat Tjebolek 1886, Babat Gijanti oleh Balai Pustaka 1939. Karangan diatas adalah hasil karya Kiai Jasadipuro I.

Sedang karya Kiai Jasadipuro II antara lain : Serat Ardjunasosrobahu 1824, Serat Darmasunya 1820, Sasana Sanu 1825 dan Serat Witjara Keras 1825. Semua buku diatas dicetak dengan huruf jawa.

Tepat pada tahun 1802 saat wafatnya Kiai Jasadipuro I, lahirlah Raden Ngabehi Ronggowarsito.Tepatnya tanggal 14 maret 1802. Beliau ini juga keluarga sastrawan Jawa. Cucu dari Raden Ngabehi Jasadipuro II. Jadi memang darah keturunan pujangga.

Pada saat mudanya, suka sekali bepergian kemana-mana, dengan alasan mencari ilmu dan pengalaman.

Bahkan sampai juga di pondok-pondok pesantren sekitarnya seperti Madin dan Ponorogo. Sedangkan ketika itu, Surakarta berada di bawah Pemerintahan Sri Mangkunegoro IV yang memang meluhurkan kesenian, sehingga mereka secara tersamar bisa menyusupkan pengaruh-pengaruhnya.

Ketika itu, sudah ada beberapa petugas bahasa, pegawai pemerintahan Surakarta. Antara lain Dr. Palmer van den Broek dan CF Winter. Tetapi mereka justru lebih banyak belajar pada Ronggowarsito tentang bahasa dan sastra Jawa. Namun sebaliknya Ronggowarsito juga menimba ilmu pengetahuan lebih luas dari mereka, terutama sastra barat.

Pada saat iru sastra jawa tak bisa dilepaskan dengan gamelan.Menyadari akan hal ini, dengan gending Ronggowarsito berusaha mendobraknya.

Lalu mulailah ia mengarang prosa, karena baginya hasil sastra itu bisa berupa atau bentuk apa saja. Baik Puisi atau prosa. Atas prakarsa inilah lahir babak baru kesusasteraan jawa. Tentu saja saat itu masyarakat tidak begitu saja mnerimanya. Namun ia sama sekali tak bergeming dari tekadnya. Ia tidak hanya menangani sastra saja, tetapi juga agama, filsafat, pendidikan, sejarah, kebatinan bahkan juga tentang ramalan-ramalan yang agak berbau mistik.

Tetapi kemudian, lambat laun, masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya prosa bagi mereka. Bukankah lebih mudah ditangkap dan dinikmati? Selanjutnya, malah karangan-karangannya yang mengandung filsafat banyak dikagumi dan diserap rakyat.

Sebagai seorang Pujangga, ia gigih dan ulet serta kritis dalam menghadapi keadaan dan hari depan. Bahkan Serat Kalatida ini ditulisnya setelah ia uzur. Kalatida ditulis dalam bentuk puisi. Namun demikian, mudah ditangkap isi dan maksudnya yang intinya memberikan reaksi atas adanya kemunduran moral yang mulai terjadi saat itu. Salah satu baitnya yang sangat populer adalah yang tertera dibawah ini.

"Amenangi jaman edan, euh aya ing pambudi, melu edan ora tahan, yen tan melu hanglakoni, bojo keduman melik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lalai, lewih begja kang eling lan waspada"

terjemahannya kira-kira ; "Mengalami zaman gila, sulit rumit dalam bertindak, ikut gila tak sampai hati, jika tak ikut larut tak bakal dapat rejeki, kelaparalah akhirnya, namun sudah takdir kehendak Allah, lebih mujur bagi yang ingat (pada Tuhan) dan tetap waspada"

Pada tahun 1953, buku-bukunya pernah dipamerkan di Surakarta, guna mengenang jasa dan kebesarannya. Buku yang dipamerkan saat itu hanya 40 judul saja. Bentuknyapun masih bentuk lama puisi dan prosa.

Sedangkan buku-buku Ronggowarsito antara lain; Jayabaya, Jokolodang, Kalatida, Sabdatama, Sabdajati, Paramayoga, Nitisruti, Candrarini, Cemporet, Pustakaraja, Wirid dll.

Kini patung Ronggowarsito sudah bisa kita lihat didepan gedung Radya Pustaka di Surakarta. Pada tugu tersebut tertulis bait-bait bukunya Kalatida diatas. Sedangkan makamnya ada didesa Palur, Kabupaten Klaten, telah dipugar dengan baik oleh Departemen P dan K.

Sastra Indonesia


Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
• Pujangga Lama
• Sastra "Melayu Lama"
• Angkatan Balai Pustaka
• Pujangga Baru
• Angkatan '45
• Angkatan 50-an
• Angkatan 66-70-an
• Dasawarsa 80-an
• Angkatan Reformasi
Secara metode penyampaian sastra Indonesia terbagi atas 2 bagian besar, yaitu:
• lisan
• tulisan
Pujangga Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.

Karya Sastra Pujangga Lama
• Sejarah Melayu
• Hikayat Abdullah - Hikayat Andaken Penurat - Hikayat Bayan Budiman - Hikayat Djahidin - Hikayat Hang Tuah - Hikayat Kadirun - Hikayat Kalila dan Damina - Hikayat Masydulhak - Hikayat Pandja Tanderan - Hikayat Putri Djohar Manikam - Hikayat Tjendera Hasan - - Tsahibul Hikayat
• Syair Bidasari - Syair Ken Tambuhan - Syair Raja Mambang Jauhari - Syair Raja Siak
• dan berbagai Sejarah, Hikayat, dan Syair lainnya

Sastra "Melayu Lama"
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah sumatera lainnya", Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra "Melayu Lama"
• Robinson Crusoe (terjemahan)
• Lawan-lawan Merah
• Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
• Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
• Kapten Flamberger (terjemahan)
• Rocambole (terjemahan)
• Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
• Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
• Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
• Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
• Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
• Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
• Cerita Nyi Paina
• Cerita Nyai Sarikem
• Cerita Nyonya Kong Hong Nio
• Nona Leonie
• Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
• Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
• Cerita Rossina
• Nyai Isah oleh F. Wiggers
• Drama Raden Bei Surioretno
• Syair Java Bank Dirampok
• Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
• Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
• Tambahsia
• Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
• Nyai Permana
• Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
• dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Angkatan Balai Pustaka
Karya sastra di Indonesia sejak tahun 1920 - 1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura.

Pengarang dan karya sastra Angkatan Balai Pustaka
• Merari Siregar
o Azab dan Sengsara: kissah kehidoepan seorang gadis (1921)
o Binasa kerna gadis Priangan! (1931)
o Tjinta dan Hawa Nafsu
• Marah Roesli
o Siti Nurbaya
o La Hami
o Anak dan Kemenakan
• Nur Sutan Iskandar
o Apa Dayaku Karena Aku Seorang Perempuan
o Hulubalang Raja (1961)
o Karena Mentua (1978)
o Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
• Abdul Muis
o Pertemuan Djodoh (1964)
o Salah Asuhan
o Surapati (1950)
• Tulis Sutan Sati
o Sengsara Membawa Nikmat (1928)
o Tak Disangka
o Tak Membalas Guna
o Memutuskan Pertalian (1978)
• Aman Datuk Madjoindo
o Menebus Dosa (1964)
o Si Tjebol Rindoekan Boelan (1934)
o Sampaikan Salamku Kepadanya
• Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
• Adinegoro
o Darah Muda
o Asmara Jaya
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Tak Putus Dirundung Malang
o Dian jang Tak Kundjung Padam (1948)
o Anak Perawan Di Sarang Penjamun (1963)
• Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1957)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
• Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1975)
o Sukreni Gadis Bali (1965)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1966)
• Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
• Marius Ramis Dayoh
o Pahlawan Minahasa (1957)
o Putra Budiman: Tjeritera Minahasa (1951)
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai Raja Pengarang Balai Pustaka oleh sebab banyaknya karya tulisnya pada masa tersebut.

Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi "bapak" sastra modern Indonesia.
Pada masa itu, terbit pula majalah "Poedjangga Baroe" yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu 1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah dan; 2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan karya sastra Pujangga Baru
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Layar Terkembang (1948)
o Tebaran Mega (1963)
• Armijn Pane
o Belenggu (1954)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
• Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1954)
o Buah Rindu (1950)
o Setanggi Timur (1939)
• Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1971)
o Madah Kelana (1931/1978)
o Sandhyakala ning Majapahit (1971)
o Kertadjaja (1971)
• Muhammad Yamin
o Indonesia, Toempah Darahkoe! (1928)
o Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
o Ken Arok dan Ken Dedes (1951)
o Tanah Air
• Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan (1953)
o Pertjikan Permenungan (1953)
• Selasih
o Kalau Ta' Oentoeng (1933)
o Pengaruh Keadaan (1957)
• J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)

Angkatan '45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik.

Penulis dan karya sastra Angkatan '45
• Chairil Anwar
o Kerikil Tadjam (1949)
o Deru Tjampur Debu (1949)
• Asrul Sani, Rivai Apin Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
• Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
• Pramoedya Ananta Toer
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Ditepi Kali Bekasi (1951)
o Gadis Pantai
o Keluarga Gerilja (1951)
o Mereka jang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Tjerita dari Blora (1963)
• Mochtar Lubis
o Tidak Ada Esok (1982)
o Djalan Tak Ada Udjung (1958)
o Si Djamal (1964)
• Achdiat K. Mihardja
o Atheis - 1958
• Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
o Terjemahan karya W. Shakespeare: Hamlet, Impian di tengah Musim, Macbeth, Raja Lear, Romeo dan Julia, Saudagar Venezia, dll.
• M.Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak, kumpulan cerpen (1978)
• Utuy Tatang Sontani
o Suling (1948)
o Tambera (1952)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)

Angkatan 50-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan karya sastra Angkatan 50-60-an
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada akhir dekade 80-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
• Ajip Rosidi
o Cari Muatan
o Ditengah Keluarga (1956)
o Pertemuan Kembali (1960
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua
o Tahun-tahun Kematian (1955)
• Ali Akbar Navis
o Bianglala: kumpulan tjerita pendek (1963)
o Hudjan Panas (1963)
o Robohnja Surau Kami: 8 tjerita pendek pilihan (1950)
• Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)
• Enday Rasidin
o Surat Cinta
• Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
• Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
• Ramadhan K.H
o Api dan Si Rangka
o Priangan si Djelita (1956)
• Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
• Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
• Titis Basino
o Pelabuhan Hati (1978)
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (cerpen) (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu (1983)
o Trilogi: Dari Lembah Ke Coolibah (1997); Welas Asih Merengkuh Tajali (1997); Menyucikan Perselingkuhan (1998)
o Aku Supiah Istri Wardian (1998)
o Tersenyumpun Tidak Untukku Lagi (1998)
o Terjalnya Gunung Batu (1998)
o Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998)
o Rumah Kaki Seribu (1998)
o Tangan-Tangan Kehidupan (1999)
o Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999)
o Mawar Hitam Milik Laras (1999)
• Toto Sudarto Bachtiar
o Suara : kumpulan sadjak 1950-1955 (1962)
o Etsa, sadjak-sadjak (1958)
• Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
• W.S. Rendra
o Balada Orang² Tertjinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang dan tjerita-tjerita pendek lainnja (1963)
• dan banyak lagi karya sastra lainnya

Angkatan 66-70-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dll pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalah-pahaman; ia lahir mendahului jamannya.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.

Karya Sastra Angkatan '66
• Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
• Abdul Hadi WM
o Laut Belum Pasang – (kumpulan puisi)
o Meditasi – (kumpulan puisi)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur – (kumpulan puisi)
o Tergantung Pada Angin – (kumpulan puisi)
o Anak Laut Anak Angin – (kumpulan puisi)
• Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)
o Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)
o Perahu Kertas – (kumpulan puisi)
o Sihir Hujan – (kumpulan puisi)
o Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)
o Arloji – (kumpulan puisi)
o Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)
• Goenawan Mohamad
o Interlude
o Parikesit
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)
o Asmaradana
o Misalkan Kita di Sarajevo
• Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk – (kumpulan cerita pendek)
o Lebaran di Karet, di Karet - (kumpulan cerita pendek)
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging -
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
• Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
• Putu Wijaya
o Telegram
o Stasiun
o Pabrik
o Gres – Putu Wijaya
o Bom
o Aduh – (drama)
o Edan – (drama)
o Dag Dig Dug – (drama)
• Iwan Simatupang
o Ziarah
o Kering
o Merahnya Merah
o Koong
o RT Nol / RW Nol – (drama)
o Tegak Lurus Dengan Langit
• Arifin C. Noer
o Tengul – (drama)
o Sumur Tanpa Dasar – (drama)
o Kapai Kapai – (drama)
• Djamil Suherman
o Sarip Tambak-Oso
o Umi Kulsum – (kumpulan cerita pendek)
o Perjalanan ke Akhirat
o Sakerah
dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dasawarsa 80-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Majalah Horison tidak ada lagi, karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Kurniawan Junaidi.

Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80-an
Antara lain adalah:
• Badai Pasti Berlalu - Cintaku di Kampus Biru - Sajak Sikat Gigi - Arjuna Mencari Cinta - Manusia Kamar - Karmila
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad 19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih "berat".
Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.

Sastrawan Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang Sastrawan Angkatan Reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubrik sastra Harian Republika, misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda dan Acep Zamzam Noer, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Sastrawan Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki 'juru bicara', Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta, tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami, dan Dorothea Rosa Herliany.
• Abidah el Khalieqy
• Afrizal Malna
• Ahmad Nurullah
• Ahmad Syubanuddin Alwy
• Ahmadun Yosi Herfanda adalah salah seorang penyair yang dimasukkan oleh Korrie Layun Rampan ke dalam Angkatan 2000, tapi ia sebenarnya telah banyak menulis sajak sejak awal 1980-an.
• Ayu Utami dengan karyanya Saman, sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung, lanjutan dari cerita Saman.
• Dorothea Rosa Herliany
• Seno Gumira Ajidarma

Cybersastra
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (internet)baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya.
Prev